GURU MENGAJI

(MENGajar tanpA digaJI)

Cukup banyak berkas-berkas pengalaman liputan yang menapak di hati dan pikiran saya selama bekerja sebagai Reporter di sebuah TV swasta nasional. Sayang, kesibukan membuat tidak semua pengalaman itu saya goreskan di atas “kertas”. Banyak yang membekas, tetapi sedikit yang terdokumentasi. Salah satunya cerita perjalanan ini. Baiklah saya mau memutar ulang, dan bercerita kepada sahabat semua, seolah-olah saya berada pada waktu saya meliput sosok yang penuh dedikasi ini. Semoga bermanfaat.

*******

29 Juli 2010, saya berada di Pulau Untung Jawa. Keramahan khas penduduk Untung Jawa langsung terasa sejak saya menginjakkan kaki di bibir pantai pulau ini. Untung Jawa adalah sebuah kelurahan kecil dalam wilayah administratif Kepulauan Seribu. Luasnya tak kurang dari 40 hektar, dihuni sekitar 500 kepala keluarga, dengan total penduduk 2000-an jiwa. Karena luasnya yang tak seberapa, penduduk di pulau ini saling kenal satu sama lain.

Sekitar lima menit saya berjalan menyusuri gang-gang kecil di pulau ini, sampailah saya di sebuah rumah. Dari luar rumah ini terlihat sepi, sayup-sayup terdengar lagu pengajian yang syahdu. Dengan semangat, saya segera mendekati rumah ini dan mengetuk pintu. Seorang pria muda, berperawakan sedang, segera membuka pintu dan membalas sapaan saya.

Pria itu bernama Abdul Malik. Usianya 30 tahun. Masih muda, namun ia sudah berarti banyak bagi masyarakat di Pulau Untung Jawa. Abdul Malik adalah seorang guru. Bukan guru biasa. Ia membuka Madrasah dan mendidik ratusan anak pulau ini tanpa imbalan sedikit pun. ”…Ya saya amalkanlah keluar dari pesantren yang diajarkan tentang ikhlas,  tentang berbuat baik sama orang, ajaran-ajaran guru saya, yang masih terngiang di telinga saya…”, Abdul Malik menjawab ketika saya memulai pertanyaan pertama.

Satu pertanyaan menggelitik di hati saya. Bagaimana dia mampu bertahan hidup? Apalagi Abdul Malik telah berkeluarga. Abdul Malik memiliki seorang putri berusia dua setengah tahun. Namanya Alkanoura. Sayang, saat berada di rumahnya, saya belum sempat bertemu istrinya. Menurut Abdul Malik, istrinya baru jatuh sakit karena pendarahan, dan sedang beristirahat di rumah mertuanya.

Setelah kami berbincang sebentar, ia pamit untuk sholat dzuhur. Usai sholat, Abdul Malik melanjutkan kisah hidupnya kepada saya. ”…Saya sudah gak punya orang tua, saya 11 bulan sudah ditinggal sama Ibu, barangkali ini yang buat saya prihatin..”, ujarnya saat saya bertanya latar belakang ia menjadi guru.

Ayahnya merantau lalu menikah lagi setelah ibunya mangkat. Abdul Malik kemudian diasuh oleh nenek, paman dan bibinya. Ia mengaku rumah yang ditempatinya sekarang bukan miliknya. Rumah itu dihibahkan oleh seorang paman dari istri Abdul Malik setelah mereka menikah.

Pukul 13.00 WIB, Abdul Malik bersiap-siap mengajar. Inilah pekerjaan yang dilakoninya sepenuh jiwa, setiap hari selepas sholat dzuhur hingga maghrib menjelang. Sebelum menuju Madrasah, ia mengantar Alkanoura  putrinya, ke rumah mertuanya. Letak rumah mertuanya cukup dekat dengan rumahnya, hanya terpisah satu gang. Rizka Anggraini, istrinya yang sedang sakit, terbaring lemas di ruang tengah rumah itu. Setelah berbicara singkat dan pamitan dengan istrinya, Abdul Malik bergegas menuju Madrasah.

*******

Suasana Madrasah Nihayatul Hidayah sudah ramai ketika Abdul Malik tiba di sekolah yang ia bangun ini. Anak-anak bermain riang di halaman Madrasah menunggu jam pelajaran mulai.

Madrasah ini sangat sederhana, terdiri dari lima ruang kelas, satu ruang kelas sudah rusak, sehingga tinggal empat ruang kelas yang terpakai, ditambah satu ruang guru. Ada pula sebuah lapangan badminton di tengah Madrasah. Guru yang mengajar di Madrasah ini ada delapan orang, termasuk Abdul Malik sebagai Kepala Madrasah.

Tahun 2010, jumlah murid Madrasah Nihayatul Hidayah ada 64 orang. Rata-rata usia mereka dari 7 hingga 12 tahun. Mereka terbagi dalam empat kelas yang ada berdasarkan usia. Satu kelas sekitar 10 hingga 20 orang murid.

Abdul Malik mengajar di ruang kelas paling ujung. Ini adalah kelas akhir di Madrasah. Meski ruang kelasnya sangat sederhana, tak perlu meragukan semangat belajar anak-anak ini. Pagi hari anak-anak Madrasah bersekolah di sekolah umum. Kemudian, siang hari mereka belajar di madrasah. Namun, semangat mereka seakan tak pernah kendur.

Kesan takut seolah tak pernah ada di wajah anak-anak Madrasah, walaupun kondisi ruangan yang apa adanya menjadi tempat belajar mereka sehari-hari. Kursi tempat mereka duduk adalah kursi pinjaman dari sekolah negeri atau bantuan inpres. Lantai, pintu dan tembok yang retak, serta atap yang nyaris bocor, bukan penghalang mereka untuk belajar Agama Islam. Di Madrasah yang sederhana ini, anak-anak Pulau Untung Jawa belajar Alquran dan hadits, ilmu fiqih, aqidah akhlak, bahasa Arab, istrah, praktek ibadah, imla, iqro dan beragam ilmu Agama Islam lainnya. ”..Khan kalo disini ada cerita nabi-nabi, sejarah nabi-nabi, macam-macam deh, ada aqidah akhlak, tentang yang boleh kita buat dan yang gak boleh kita buat, senang banget deh…”, cerita Zainu, salah satu murid Madrasah kepada saya.

*******

SEKOLAH KAMI

Madrasah ini adalah peninggalan paman Abdul Malik. Dulu hanya ada dua ruang kelas yang lebih memprihatinkan. “…Paman saya ajak untuk beli tanah ini dulu khan masih sangat murah, ternyata pas kita beli dia wakafin..”, ujar Abdul Malik.

Tahun 1998, Abdul Malik lulus dari Pesantren Al Mahubiyah di Cilandak, Jakarta Selatan. Setelah lulus dari pesantren, pamannya meminta Abdul Malik meneruskan pendidikan Islam swadaya ini. Saat itu usianya belum genap 20 tahun. “…Saya dipercaya barangkali prasangka baik paman, saya orang yang mengenyam pendidikan lama di pesantren, saya jaga amanat ini, saya lanjutkan perjuangan beliau. Dulu rasanya prihatin sekali, dulu tahun 90 ke bawah biasanya kalo sekolah karena kelasnya dua ganti-gantian dari kelas 1 sampai kelas 6…”, ia menjawab dengan tenang satu per satu pertanyaan saya.

Berkat didikan pesantren, Abdul Malik akhirnya tahu bahwa anak-anak di pulaunya tidak memiliki pemahaman ke-Islam-an seperti yang ia peroleh. Ia merasa prihatin dengan kondisi anak-anak pulau yang ’wala-wala’, yang tidak tahu apa-apa soal agamanya. “…Anak-anak itu belajar tentang pelajaran umumnya, padahal disini sudah ada SD, maksud saya bagi-bagi tugaslah di SD umum di madrasah khusus belajar agama. Saya kasih pengertian seperti ini, dia gak bakal tau Tuhannya kalau gak tau dirinya, dia gak tau Tuhannya kalau ga tau agamanya..”, lanjut Abdul Malik.

Tahun demi tahun berlalu, Madrasah Nihayatul Hidayah makin berkembang. Abdul Malik pun mengajak teman-temannya sesama alumni pesantren untuk mengajar di Madrasah ini. Mereka juga tidak digaji..!!! Atas usaha Abdul Malik, sejak tahun 2009, tiap guru di Madrasah ini mendapat infaq rutin, seratus ribu tiap bulan. Sama seperti Abdul Malik, teman-teman gurunya berprinsip Lilahi Ta’ala. Mereka tak pernah khawatir soal rejeki dan kehidupan. “…Kami yakin, kalo Allah akan memperhatikan kita, kalo kita memperhatikan orang…”, ujar Siti Dahlia, salah seorang teman guru Abdul Malik.

Rejeki terus datang semenjak Abdul Malik membuka madrasah ini. Ia bahkan menganggap rejeki seolah sebuah pengalaman spiritual. “…Kadang-kadang kalo saya lihat madrasah ini saya suka ngimpi, rasanya terlalu cepat. Saya contoh seperti ini.. Pagar ini, lapangan badminton ini, tanpa sepengetahuan saya tahu-tahu ada. Bukannya ngarang, inilah tahajud nikmat..”, ceritanya mantap.

*******

Seiring waktu berlalu, Abdul Malik memendam cita-cita yang lebih mulia. “…Ini ada kelas kosong, saya ada semangat untuk buka SMU atau SMK yg kira-kira anak-anak berminat sekolah disini..”, katanya.

Sekolah umum yang ada di Pulau Untung Jawa baru sampai tingkat SMP. Setamat SMP, banyak anak Untung Jawa tidak meneruskan sekolah. Sebab, jika hendak melanjutkan ke tingkat SMA, anak-anak harus keluar pulau. Kondisi ini membuat Abdul Malik prihatin. “…Saya tergerak mulai tahun 2004, saya lihat anak-anak banyak yang setelah lulus SMP gak nerusin sekolah. Dia ke laut jadi nelayan. Seiring waktu saya bergaul, saya kenalan dgn teman-teman alumni pesantren juga, akhirnya saya bisa masukkan anak-anak ke sana..”, kisahnya.

Hingga tahun 2010, Abdul Malik membantu menyekolahkan anak-anak pulau sampai tingkat SMA atau Madrasah Aliyah. Sebagian besar belajar di pesantren. Semua anak yang dibantu adalah kaum dhuafa dan anak yatim. Jumlah anak-anak yang ia bantu sudah lebih dari 20 orang. Biaya sekolah anak-anak ini dicicil tiap tahun. “…Setiap tahun ada tunggakan. Anak-anak saya masukkan mereka di tempat saya sekolah dulu. Saya titip sekolah di situ ada 14 anak..”, ia melanjutkan ceritanya.

Sudah tak terhitung berapa kali Abdul Malik harus berhutang untuk membiayai sekolah anak-anak asuhnya. “…Sampai sekarang saya masih punya utang. Sudah biasa. Saya percaya kalau utang untuk orang lain tidak apa-apa, lama-lama habis juga itu utang..”, katanya jujur.

Benar saja, sejak tiga tahun lalu, sebuah lembaga Amil Zakat dari Yayasan Al-Azhar, akhirnya membantu melunasi semua tunggakan sekolah anak-anak asuhan Abdul Malik.

*******

Banyak sudah karya mulia yang dibuat Abdul Malik untuk pendidikan anak-anak di pulaunya. Tapi siapa sangka, ternyata Abdul Malik tak pernah bercita-cita menjadi guru. “…Dari kecil cita-cita jadi Angkatan Laut, kalo lihat kapal-kapal besar saya ingin keliling dunia. Barangkali karena Allah tidak mengijinkan ke situ, saya percaya itu, ya Allah kasih amanat ini..”, saya tertegun mendengar pengakuannya.

Untuk menambah penghasilan, Abdul Malik menjadi penjual ikan. Ia patungan dengan kakaknya, mereka menampung ikan dari para nelayan yang melaut kemudian dijual. “…Dari situ saya ada penghasilan tetap, dulu banyak, saya pernah dagang cat, dagang baju, bertahun-tahun dagang cat, banyaklah kalo diceritakan, pahit manisnya ada disini…”, katanya.

Dalam seminggu, Abdul Malik bisa tiga kali menjual ikan hingga ke Muara Angke, Jakarta Utara. Ia pulang keesokan harinya membawa untung sekitar 200 ribu setelah bagi hasil. Tapi, sekali lagi, baginya rejeki adalah wewenang Allah. Sebagai manusia, ia hanya berikhtiar dan berusaha menjadi berkat bagi sesamanya. ”…Harapan saya ke depan merubah pola pikir masyarakat, makanya semenjak sekarang, anak-anak saya sudah kasih pemahaman tentang keagamaan, tentang kemanusiaan, seperti Allah bilang dalam Al’Quran ’siapa lagi yang bisa merubah diri mereka kalau bukan mereka sendiri’..”, Abdul Malik menjelaskan visinya bagi pulaunya kelak.

Ya, kita harus hidup dengan harapan. Harapan adalah untaian doa kita kepada Allah. Adalah baik untuk berharap yang terbaik, namun harapan saja tidak cukup.  Kita harus bertindak. Seperti Abdul Malik, marilah kita menabur kebaikan tanpa pamrih, menaruh kebaikan di hati semua orang, untuk dunia yang lebih baik. Salam..!

Advertisements

2 thoughts on “GURU MENGAJI

  1. Membaca kisah ini, menambah pengertian saya tentang konsep Rejeki. Bahwa manusia tidak seharusnya memikirkan seberapa banyak rejeki yang didapat karena itu adalah kapasitas Tuhan dan manusia hanya perlu berusaha yang terbaik…

    Juga tentang konsep hidup ilmu padi. Jika kita hidup untuk menanam padi maka rumput akan tumbuh mengiri padi dengan sendirinya. Namun jika kita hidup untuk menanam rumput maka sudah pasti padi tidak akan tumbuh disisi rumput. Sedangkan padi dan rumput sudah tentu lebih berharga padi.

    Seseorang dalam kisah diatas, benar benar mengerti konsep hidup seperti ini…

    Keren bang wil 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s