SAMBUT BARU

Kado untuk Octwelve Earlinoldy

Bocah-bocah setengah lari menukik punggung bukit, menebas sangit, melindas semak rerumput yang tumbuh sakit. Katapel di tangan kiri seolah jadi celurit, “itu burung pipit”, berkata Si Bongsor menunjuk langit. Sekejap perburuan mulai. Senjata karet dan batu parit.

Lengking bertalu di atas puncak gundul Bidara. Lapangan Kera, begitu moyang mereka mengusung nama bagi hutan tanpa stigma. Pagi merona, pemburu cilik menggelar sasar, mendedah api bara. Asap mengudara. Mereka terlampau muda memaknai hidup berswaka, cinta alam, flora, fauna.

Hanya sebuah jejak tanah, kampung berbatas pantai bongkah batu dan Gunung Ebulobo : Mauponggo, alur jalan satu jalur. Di situ mereka meretas jelajah, berpijar melukis cahaya, dengan napas sengal gelisah, kaki-kaki tak berpelana, hingga malam tiba. Lalu gelap. Mereka hingar sedekap di bawah purnama, bercanda dengan buncah geligi warna jelaga, main sembunyi muka. CiLukBa. Riuh tertawa renyah anak desa.

Dan bulan merdeka, riak itu sejenak terkunci. Agustus diari. Di gereja, pertama kali mereka mengaku dosa, burung Pipit melesat sepenggal sekali. “Akh…bayi taji, kau lupa membuka janji..”. Minggu lalu suaminya mati tertembak mati. Di dahan Jati. Peluru batu kali.

Tapi dalam dada mereka, kata-kata bukan simbol malu, rasa bersalah atau gerak bibir yang ngilu. Bahagia adalah doa bersama. Kala untai kalimat “Bapa Kami” telah selesai terangkai, memendam di kepala, mengeram di putih baju mereka, waktu Minggu pagi lonceng kapel berdentang tujuh kali. Eksotik.

Mereka menghidupi hari dengan kesunyian pura-pura, setelahnya baris permainan berhamburan dari hilir muara. Tak ada sajak durja. Sebab hari ini mereka terima Hosti, Tubuh Sang Rabbi. Agustus diari.

Lalu upacara berputar di lorong sekolah, di rumah dinding bambu yang sahaja, pesta makan-jalan berpendar cara bahasa, baju kemeja setengah lusuh dari dua angkatan di silam masa, tangan kanan menggenggam bunga, korsase di dada, tangan kiri lilin bernyala. Ceracap “ngeli pora…moki mina..”*

Tak ada tangis meski separuh mereka berkisah nelangsa. “Ya Rabbi, Kau yang meniup api cinta, suka senanti asa..”

Sekian senja berlalu, mereka akrabi hari dalam belepot lumpur sawah, pagar pohon Kesi** dan bunga Bonsai. Kadang-kadang mereka kelahi lantaran karet gelung terburai. Menangkap udang di kali mati. Berenang sejauh ombak, menyisir cerita bahari, mengeringkan kulit dengan handuk matahari.

Mereka berlari, berjalan, belajar berhitung tiap lima jari dengan patahan sapu lidi. Lantas, ketika Minggu pagi datang, ada rindu sesak menambatkan kepolosan pada serpih roti. Pada sakrifisasi yang belum gaek mereka geluti. Cuma tanda beri diri. Sebab mereka tahu pasti, Tuhan memberkati. Di negeri mini-nya, hanya ada mimpi : bersua bapak menteri yang saban hari muncul di kotak televisi. Kelak di suatu hari.

Diari mereka belum usai, cerita anak-anak pantai. Bukit besi. Hari ini membuka paruh menyambut Hosti. Kenapa mereka terdampar di sini? Aku tak tahu.. waktu tak pernah berjanji membuka rahasia bumi.

 

*    : berpesta pora (bahasa lokal Mauponggo, sebuah kecamatan di Flores Barat)
**  : sejenis pohon kecil sebagai pembatas lahan atau pagar. Banyak tumbuh di Flores

 

TEBET, 2010

P.S. : Puisi ini pernah terbit di Rubrik OASE – KOMPAS.COM

Untuk melihat, silahkan klik link berikut ini:  SAMBUT BARU

Advertisements

6 thoughts on “SAMBUT BARU

    1. Ini prosa liris untuk ponakan saya Mbak Evi.. Waktu itu ditulis saat dia menerima Komuni Pertama..dalam agama katolik ini salah satu tahapan sakramentali berupa penerimaan HOSTI untuk pertama kalinya. Kalau di Protestan ada SIDI. Nah di Kampung saya istilah Komuni Pertama ini sering disebut “SAMBUT BARU” maksudnya orang yang baru meyambut HOSTI..hehe

      Like

    1. Bung Mochammad, salaaam kenal (jabat tangan..haha). Terima kasih banyak sudah mampir ke blog saya dan terima kasih juga apresiasinya.

      Salam 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s