LAYANG – LAYANG

Kite Runner

Tiada yang istimewa. Sederhana. Tanpa warna.

Hanya semilir angin dan cahaya mentari turut bersukacita. Tapi aku bahagia.

(Ervina Karmelia)

Larik-larik kalimat di atas saya kutip dari status facebook saudari sulung saya, Ervina, ketika dia berulang tahun pada tanggal 5 agustus lalu. Bait kata-kata yang sederhana namun menyentuh hati saya. Saya menangis ketika membaca dinding Facebook-nya. Saya yakin sungguh kalimat-kalimat itu lahir dari perenungannya. Bahwa dia juga saya, kami 4 bersaudara, sejak belia sudah tumbuh dalam kesederhaan, pada kisah masa kecil yang nelangsa, pada hidup untuk memperjuangkan kehormatan.

Tetapi ada juga satu kejadian yang membuat saya menjadi begitu emosional di hari yang sama dengan hari ulang tahun saudari saya itu. Sebuah email yang saya tunggu-tunggu dengan penuh harapan akhirnya tiba. Isi email itu membuat saya haru bercampur bahagia, juga bangga. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya percaya TUHAN memilih saya untuk melakukan sesuatu karya yang mungkin hanyalah sebuah langkah kecil bagi sebagian orang, tetapi untuk saya ini adalah sebuah langkah awal dari SEJARAH MENCIPTAKAN VISI SPIRITUALITAS, yang saya sebut MEMENUHI PIALA KOSONG dalam hidup saya.

Isi email itu:

Saya terpilih sebagai salah satu PENGAJAR MUDA angkatan ke tiga

dari Gerakan Indonesia Mengajar.

Perjalanan saya masih amat panjang, tetapi saya yakin, bahwa semua niat dan usaha baik saya pasti direstui oleh-NYA. Keinginan saya sederhana. Sesederhana saya hanya ingin memenuhi piala kosong saya, dan menjadi titik-titik air yang keluar dari piala itu menuju samudera yang luas dan dalam. Saya percaya TUHAN memberi kita semua hati yang terpecah-pecah, kepingan-kepingan, dan CINTA-lah yang akan merekatkan kepingan-kepingan hati kita. Tidak ada yang berbicara lebih keras daripada kepedulian kita selain TINDAKAN-TINDAKAN CINTA kita..

Seperti layang-layang saya ingin terbang bebas. Seperti layang-layang ditarik ulur benang angin, saya ingin terbang menjangkau langit, namun tak pernah lupa pada bumi dan penciptanya. Seperti layang-layang di langit luas siap menembus awan namun kembali ke bumi, seperti biduk kecil di lautan luas siap menerjang ombak melaju menuju tepian bahagia, itulah hidup yang mau kujalani.

***

THE NOURISHMENT FROM GOD

Setelah menerima kabar gembira itu, sejumlah kejadian yang menggerakan rohani datang satu persatu dalam hidup saya. Semuanya tentang kerelaan memberi. Sejak akhir bulan Juli hingga minggu ketiga agustus ketika saya melengkapi kisah sederhana saya ini , kejadian-kejadian itu “memaksa” saya, menggerakkan rohani saya untuk dibagi. Yap, I guess, I’ve been through one very busy period, when I do the most, but reflect the least.

Saya ingat, suatu hari di akhir bulan Juli, saya pulang malam hari dari kantor tempat saya bekerja. Siang hari itu saya baru mengikuti tes kesehatan, tes terakhir sebelum saya menerima email yang saya ceritakan di atas.

Di sebuah perempatan yang ramai di Jakarta, saya turun. Berjalan sendiri sekitar 1 kilo meter lagi menuju kost saya. Kira-kira baru 3 menit melangkah seorang pemulung datang menghampiri saya. Saya agak takut sebenarnya. Tetapi seketika tertegun mendengar permintaannya. “Mas, bisa bantu saya? Saya minta bantuan modal mas, 40 ribu saja buat jadi loper koran.. Lumayan mas, daripada jadi pemulung. Saya bisa jualan koran di stasiun, di Senen..”

Saya langsung jatuh hati. Entah dibalik permintaannya yang membuat saya langsung jatuh hati itu ada maksud lain yang tak jujur, sekali lagi entahlah, saya tak menaruh fokus pikiran saya saat itu pada kemungkinan dia tidak jujur. Tetapi sungguh baru kali itu saya mendengar sebuah permintaan dari kaum “tak punya banyak daya” dengan niat yang sedemikian membuat saya jatuh hati.

Kita semua mungkin sudah terbiasa dengan pengemis, pengamen, atau peminta-minta, yang mungkin tiap hari “akrab” dengan kehidupan kita. Entah di bis kota, rumah makan, di jalanan, pusat perbelanjaan, trotoar, sekolah, tempat ibadah, bahkan sampai rumah pribadi, peminta-minta punya seribu tekad untuk meminta uang.

Bahkan ada yang menggunakan cara-cara tak layak, dengan kekerasan untuk mendapatkan uang. Pengamen di bis kota yang memaki-maki jika kita memberi recehan atau uang logam contohnya. Atau saya bahkan pernah melihat seorang pengemis perempuan tua di depan sebuah pusat perbelanjaan, sambil memegang tongkat di tangan, dia tak segan-segan akan memukul betis para pelintas yang lewat, jika mereka tak memberikannya uang atau jika para pelintas hanya menaruh kepingan uang logam di dalam mangkuk yang pengemis itu pegang.

Yah, PENGEMIS can be annoying as well. Tetapi, pemulung yang saya ceritakan ini adalah sebuah contoh yang berbeda. Dia datang kepada saya, bukan hanya sekedar meminta uang, tetapi meminta uang untuk menjadi modal usaha. Dia sadar diri. Dia tidak banyak meminta modal (saya juga tahu diri, saya belum dapat memberi modal dalam wujud uang segitu banyaknya). 40 ribu saja. Bagi saya angka itu memang cukup bagi seorang anak kos. Saya dapat makan 3x untuk harga makanan standard Jakarta. Tetapi bagi seorang pemulung, yang setiap hari berjalan kaki sangat jauh, dari satu tempat sampah ke tempat sampah lain, mengangkut sampah-sampah yang baginya dapat berubah wujud menjadi uang, walaupun mungkin nilainya tidak seberapa, 40 ribu adalah harga yang besar.

Tetapi yang membuat saya jatuh hati bukan soal nilai 40 ribu ini. Saya jatuh hati karena dibalik permintaanya dia punya niat untuk mandiri, 40 ribu itu akan dia gunakan untuk membeli koran-koran, yang kemudian membuat dia punya pekerjaan sebagai loper. Sebuah niat sangat bersahaja dari seorang yang tak punya banyak daya, untuk perubahan hidupnya.. Seandainya ada banyak pengemis punya niat seperti dia..?

Walau begitu, sampai saat ini saya juga masih selalu bertanya-tanya, dan tak kunjung mengerti, mengapa ada pengemis di dunia ini, sejak kapankah itu terjadi? Bila TUHAN yang saya yakini berjanji memenuhi kebutuhan setiap manusia sehingga manusia tak perlu khawatir akan hidup, jauh melebihi anugerah-NYA kepada Burung Pipit yang tak pernah menabur namun dapat makan, atau kepada Bunga Bakung di padang yang tak pernah menenun namun didandani TUHAN sedemikian cantiknya.. Lalu mengapa ada pengemis?

Saya tak pernah mengerti, tetapi sekian kali lagi..seandainya ada setidaknya 100 orang pengemis memiliki niat seperti pemulung yang saya temui malam itu..sesuatu perubahan mungkin saja terjadi..

***

Kejadian lain, pada suatu senja di hari Minggu, bersamaan dengan hari Pramuka, saya bertemu orang yang lagi-lagi menggerakkan rohani saya untuk berkaca. Hari itu, sepanjang hari saya belum makan. Pukul 3 petang saya beranjak dari kost menuju rumah makan yang biasa menjadi langganan saya. Di depan rumah makan itu saya melihat beberapa orang berkerumun, ada juga seorang bapak memakai baju kaos bertuliskan “POLISI” sedang duduk  di atas motor di tengah kerumunan itu. Tetapi yang menjadi pusat perhatian dari kerumunan itu adalah seorang gila, yang tampak lemas tak berdaya, tergolek di atas pasir depan rumah makan itu, kondisinya nyaris pingsan. Saya melihat dia hendak meronta-ronta, tetapi saya dapat merasakan bahwa saat itu dia dalam kondisi sangat lapar, dan dia tidak tahu bagaimana mengatasi kelaparannya.

Akhirnya, saya berinisiatif membeli sebotol besar air minum dalam kemasan dan memberikan kepada orang gila itu. Dia tidak langsung menerimanya, saya kemudian hanya menaruh beberapa centi meter di dekatnya.

Dia tampak sangat lapar. Saya trenyuh. Saya pandang raut mukanya yang seolah memikul beban teramat berat, matanya seperti ditimpa seribu masalah. Dia butuh perhatian. Dia butuh makanan. Tetapi dia tidak tahu bagaimana mengatasi kelaparannya sekalipun makanan ada di depan matanya. Seperti yang saya duga, sebotol air minum dalam kemasan yang saya berikan untuknya dia buang ke tengah jalan raya. Tetapi untunglah, ada juga seorang bapak berpeci putih dengan sabar berusaha menenangkan orang gila itu. Bapak berpeci putih berulangkali memberikan orang gila itu minum tetapi ditepiskannya. Meski begitu saya tahu dia sangat butuh minum, hanya saja dia tak tahu air minum sudah sedari tadi ada di depan matanya.

Kemudian saya masuk ke dalam rumah makan langganan saya, lalu memesan sebungkus nasi telur untuknya. Setelah nasi dan telur matang, saya memberi nasi itu kepada bapak berpeci putih yang sedari tadi berusaha menenangkan pemuda gila itu. Perlahan-lahan akhirnya dia mau makan, dia makan dengan sangat lahap, dan minum air dari botol seolah dia tak minum sekian lama. Seorang bapak penjual es krim yang berdiri dekat kerumunan akhirnya juga ikut menyumbang 1 cone es krim. Seketika es krim itu disambarnya, dimakannya dengan lahap sangat, sampai lenyap isi es dan conenya. Saya senang dia akhirnya mau makan bahkan makan dengan rakus, sampai habis. Tetapi sekali lagi saya tertegun memandang raut mukanya, wajahnya terlihat sangat kesusahan, matanya menangis tertahan.

Itulah detik-detik dimana saya merasa sangat bersyukur bertemu dengan orang gila. Saya merasa Tuhan berbicara kepada saya melalui orang gila itu. Saya seperti  mendapatkan satu momen dimana saya bisa kembali berkaca, setelah sekian lama saya hanya sibuk dengan urusan pekerjaan saya. Dialah cermin saya. Saya melihat matanya yang penuh dengan masalah, mata yang menanggung beban berat, hingga mungkin karena terlalu berat sampai-sampai tak dapat dia tanggung dan menjadikannya gila.. Saya melihat mata itu seringkali seperti mata saya, mata orang tua saya, mata teman-teman saya, kami semua memiliki beban hidup, kami semua menyimpan masalah, dan mata mampu memancarkan keadaan jiwa.. Saya pikir pada dasarnya semua jiwa sama seperti orang gila itu, tidak ada yang benar-benar tanpa masalah sehingga merasa seratus persen normal, saya yakin semua manusia gila, hanya saja kadar kegilaannya berbeda-beda. Ada jiwa yang mampu mengatasi masalah, ada jiwa yang meratapi masalah, ada juga jiwa yang mengumumkan masalah, dan ada jiwa yang jatuh sakit bahkan mati karena masalah, tetapi lebih di atas itu semua ada jiwa yang makin bertumbuh justru karena masalah.

Dari orang gila itu saya bercermin, membuka kembali perjalanan saya sejak  lahir. Semenjak saya dan Ibu berada pada perjuangan antara hidup dan mati. Sejak kematian pertama dalam hidup saya ketika saya berumur 1 bulan, yakni saya sendiri (kata ibu saya pernah mati suri, tetapi saya tak ingat apa-apa saat itu). Sejak bertubi-tubi masalah datang dalam keluarga dan hidup saya. Namun itu semua justru tidak membuat saya sakit lalu menggila. Walau tak selalu hidup benar, banyak masalah justru mendewasakan saya.

Namun lebih dari itu semua, melalui mata orang gila itu saya dapat berkaca dan merenungi, bagaimana jika karena masalah lalu membuat saya seolah tertimpa beban berat, jatuh sakit dan menjadi benar-benar gila..? Akh..saya beruntung TUHAN justru mengajari saya melewati masalah sebagai pembelajaran yang membangkitan. Semoga saya dan semua saja yang ditimpa masalah bertumbuh karenanya dan terpanggil untuk menjadi air penyejuk bagi semua orang yang menjadi jauh lebih gila karena masalah..

Inilah dua peristiwa yang menyentuh rohani saya dalam beberapa pekan di bulan agustus ini. Sekali lagi, seperti kata-kata saya di awal cerita : ” Saya percaya TUHAN memberi kita semua hati yang terpecah-pecah, kepingan-kepingan, dan CINTA-lah yang akan merekatkan kepingan-kepingan hati kita. Tidak ada yang berbicara lebih keras daripada kepedulian kita selain TINDAKAN-TINDAKAN CINTA kita..”

Tebet, Kamar Kos, 20 Agustus 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s