SEMAI BAKTI DI LADANG SUNYI

WM_Menyemai Bakti di Ladang Sunyi

Minggu kedua bulan Mei. 2012. Sebuah telepon dengan kode area Jakarta mengagetkannya petang itu. Perkenalan singkat dan pesan mengejutkan yang membuatnya sangat heran, bercampur sedikit cemas. Bagaimana bisa?

Dia guru biasa. Sudah lebih dari 16 tahun ia mengajar di dusun kami, Hutan Samak. Tahun 90-an awal sebelum reformasi, ia meninggalkan kota Bengkalis, menuju Rupat, pulau kecil di tepi Selat Malaka. Dia datang ke dusun, ketika sebagian besar lahan masih berwujud hutan, gedung sekolah masih berdinding papan kayu, rumah penduduk yang jarang dan hampir 100 persen penduduk masih buta huruf. Waktu itu, menjadi seorang guru lajang di dusun terpencil, tentu bukan perkara mudah. Apalagi ia seorang perempuan. Hutan Samak pada awal kedatangannya masih sangat terisolir. Tanpa listrik, tanpa air bersih, kendala geografis karena areal dusun terpisahkan oleh selat dari pusat desa dan kecamatan, tiada moda transportasi seperti perahu yang beroperasi rutin, termasuk masyarakat asli yang masih tak acuh terhadap upaya-upaya pendidikan adalah tantangan sehari-harinya.

Bahkan hingga kini. Ketika orang-orang di Jakarta masih mengeluhkan macet karena dengan mudahnya mereka membeli mobil, ketika seorang anak TK di ibukota telah mahir mengoperasikan telepon seluler, ketika seorang remaja di kota kecil di Jawa terperosok dalam jurang prostitusi murahan karena keinginan membeli satu biji Blackberry, di sini,  16 tahun telah berlalu, ia masih bergulat dengan malam gulita, genset mini bersuara bising yang sering mati tanpa ijin, minyak tanah langka, papan-papan keyboard dari laptop mini yang masih terlalu asing bagi kepalanya, pompong (perahu kecil) tunggal yang membawanya melintasi selat coklat nan dalam, juga anak-anak ingusan yang susah mati mengenal huruf dan angka. Dia terus bertengkar dengan kecamuk hati, belasan tahun ia hadapi hari-hari tanpa senyum dari masyarakat yang skeptis, masyarakat yang hanya tahu, mereka bisa memancing ikan, mengumpulkan kerang dan udang tanpa perlu menghafal rumus matematika yang rumit, atau tata surya terlalu jauh untuk mengenyangkan perut mereka demi makan siang hari ini. Sesekali terbersit keinginannya mengajukan mutasi ke kota seperti kebanyakan guru lain yang dapat hidup nyaman, gaji mapan, dan anak-anak mereka yang bisa menonton televisi atau membuka menutup kulkas dengan leluasa selama listrik menyala tanpa batas waktu.

Bersama Pak Yatim seorang guru senior yang kemudian menjadi kepala sekolah pertama di satu-satunya SD yang ada di dusun, mereka merintis pengentasan buta aksara. Bertahun-tahun hanya mereka berdua, mengajar anak-anak dusun di sebuah rumah petak sederhana, dari papan kayu, bersekat tiga untuk enam rombongan belajar. Bertahun-tahun pula, setelah gedung sekolah permanen berdiri, ia tetap berdiri penuh semangat di depan 50-an anak-anak kelas satu, menjadi wali bagi mereka, di dusun dengan tingkat natalitas yang sangat tinggi, di dusun tanpa pendidikan pra sekolah seperti TK, di dusun kecil dengan generasi orang tua mereka yang buta huruf.

Dia berjuang sepenuh hati. Hingga dusun yang ia cintai ini memberi baginya jodoh yang berkenan, pendamping hidupnya yang terus setia mendorongnya ‘menyalakan’ api pikiran anak-anak Hutan Samak. Hingga ketika putra dan putrinya lahir di pulau ini, hingga puluhan anak didiknya telah memegang ijazah SD, memberi kepada ijazah itu sampul transparan dari plastik lalu memajangnya sebagai benda pusaka berharga dalam rumah papan mereka yang sahaja, hingga beberapa rumah telah mampu membeli genset, dan sebagian jalan dusun telah bersemen, ia masih tetap senang menantang nasib di dusun ini. Hingga aku akhirnya tiba di Hutan Samak pada November 2011 yang lalu, ia masih menjaga semangat pengabdiannya, menitipkan sedikit bekal ilmu bagi anak-anak Hutan Samak. Dan hari-hari di sini selalu sama baginya, berjalan lambat dan sepi, mengajar anak-anak kelas pertama, dengan jumlah murid lebih dari 50 dalam satu kelas, dan karenanya ia rela mengambil peran lebih banyak, setiap minggu ia mengampu hampir 50 jam pelajaran, mengajar anak kelas satu yang harus kami bagi dalam dua rombongan belajar, pagi dan siang. Karena jumlah mereka sedemikian banyak sehingga kelas yang kecil tidak cukup menampung mereka dan tingkah lakunya. Sesekali, karena kecintaannya, ia rela bangun petang hari, mengumpulkan anak-anak yang sama, membimbing mereka belajar baca tulis. 16 tahun berlalu, bersama beberapa guru yang kemudian datang menjadi kawan sekerjanya, mereka masih berjuang dalam masalah yang sama, dan satu masalah yang selalu ada, membangunkan semangat anak-anak Hutan Samak agar mau meneruskan langkah ke jenjang SLTP. Di dusun kecil, yang belum melihat contoh nyata betapa pendidikan mencerahkan, betapa pendidikan telah menjadi tangga sosial, waktu 6 tahun adalah penantian yang amat lama untuk mengumpulkan sekedar puluh ribuan untuk makan hari ini.

***

Di dusun yang sehari-harinya tiada tiang listrik menghias simpang jalan, hiburan hanya sedikit datang pada malam hari. Pada suara genset yang ramai, satu untuk lima rumah. Mereka mencari tawa pada cengkok lagu dangdut dan kabar melayu dari negeri manca. Atau bila mereka mampu membeli parabola, maka hiburan terbesar pada malam hari hanyalah menonton  sinetron siluman ular dan pendekar silat beterbangan di tivi-tivi nasional kita. Berita politik, berita siswa juara olimpiade sains internasional, atau korupsi pejabat, atau berita gubernur mereka sendiri yang menjadi tersangka korupsi menjadi sedemikian jauh, apalagi hingga meleburkan diri dalam teks film dan lagu berbahasa Inggris yang ringan, itu adalah kesempatan yang sangat langka.

Maka ketika suara orang di seberang memberitahukan kepadanya sebuah berita penting sore itu, dia menjadi sedemikan kaget, heran, bercampur sedikit cemas. Seribu pertanyaan berputar di kepalanya. Barangkali ini penipuan. Jangan-jangan ini ulah orang-orang yang pandai beraksi gendam melalui telpon. Ah mana mungkin ini bisa terjadi padaku. Bagaimana bisa?

“Ibu Sarifah, terpilih mewakili propinsi Riau sebagai Guru Berdedikasi Nasional. Sebagai penghargaan atas pengabdian Ibu, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, memberikan kesempatan kepada Ibu bersama-sama wakil dari 32 propinsi lain untuk mengunjungi Australia pada akhir Juni sampai awal Juli 2012 selama satu minggu. Di sana ibu dapat melihat contoh proses pendidikan pra SD, pendidikan dasar, dan sekolah inklusi di Australia. Selama waktu yang tersisa, satu bulan sebelum keberangkatan Ibu diminta mempersiapkan diri termasuk dokumen-dokumen yang perlu.”

Maka sore itu, isi berita melalui telpon dari orang penting di Jakarta tadi, tersebarlah ke telinga kami. Kami semua, juga Pak Nasir, suami Ibu Sarifah, terus menguatkan hatinya, mengajaknya berpikir positif, barangkali itu anugerah dari Allah, brangkali berita itu memang benar-benar hadiah untuknya.

Tahun-tahun silam, Ibu Sarifah memang pernah mengikuti serangkaian seleksi, pengalamannya sekian tahun sebagai guru di pelosok Hutan Samak, mengantarkannya menyandang predikat sebagai Guru Berdedikasi, mulai dari tingkat Kabupaten Bengkalis, hingga tingkat Propinsi Riau. Prestasi itu memberinya kesempatan melihat Monas di Ibukota, dan anjangsana ke kota ramah Yogyakarta, hingga mengijinkannya bertemu muka secara langsung dengan Ibu Ani, istri presiden di kala itu.

Waktu berlalu, hingga presiden yang sama terpilih lagi, ia kembali menjalani hari-hari yang sama di Hutan Samak. Perang vitalnya sebagai guru kelas pertama tetap tak terganti. Hari-hari yang terus bergerak mungkin telah membuatnya lupa pengalaman-pengalaman luar  biasa yang boleh ia rasakan lebih dari 5 tahun lalu. Ia tetap Ibu Sarifah yang kami kenal. Seorang guru perempuan yang murah senyum, tutur kata rajin memberi pujian, betah berjam-jam di dalam kelas hingga melewatkan jam istirahatnya untuk membimbing anak-anak kelas 1 belajar calistung, yang tetap setia walau mengampu jam pelajaran terbanyak. Ia begitu cinta pada profesinya, begitu kira-kira yang dapat kukatakan ketika selama satu tahun silam menjadi guru bantu di sekolah yang sama dengannya.

Walau hari-hari yang biasa mungkin telah membuatnya lupa dari prestasi yang pernah ia raih, semesta tetap bekerja dengan caranya sendiri, dengan caranya yang unik, membalas setiap perbuatan selaras niat, sesuai amal baik dan buruk. Maka petang itu, Ibu Sarifah boleh merasa bangga, Allah yang Maha Pemurah masih dan tetap Allah yang sama, yang membalas setiap orang setimpal dengan perbuatannya.

Pergi ke Australia tak pernah terlintas dalam benak Ibu Sarifah. Seumur hidup ia belum pernah punya benda bernama paspor. Malaka di seberang pulau Rupat yang dapat ditempuh dengan ferry cepat satu setengah jam saja belum pernah ia sambangi seumur hidupnya, apalagi lain benua.

17 Juni 2012, ketika ia berpamitan pada kami semua, rekan-rekannya di Hutan Samak, kami semua merinding dalam keharuan. Sungguh. Begitu bangganya kami juga turut merasakan sebuah keniscayaan : guru SD di dusun terpencil boleh terbang lintas negara menuju Australia.

Maka, pada Ibu Sarifah, pada rekan-rekan guruku di sini, di Hutan Samak, kehadiranku selama setahun sepenuhnya bukan untuk mengajar, aku justru belajar. Aku hanya mengambil satu peran kecil dari proses hidup manusia di Hutan Samak bernama belajar. Satu tahun tentu tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan dedikasi Ibu Sarifah, dengan perjuangan hidup dari para guru yang kutemui di sini, di Hutan Samak. Mengenang kisah ini selalu membuatku percaya teguh, bahwa jerih payah yang baik tidak pernah sia-sia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s