TUHAN, Pengampunan dan Masa Depan

“Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18)

20160724_092106

Akhir Juli 2016 akhirnya terwujud juga satu keinginan saya mengikuti retret penyembuhan luka batin di Lembah Karmel Cikanyere. Ini sebuah perjuangan yang butuh waktu hampir 2 tahun lamanya dengan hasil luar biasa. Karena pulang dari retret ini saya menjadi semakin bangga sebagai seorang pengikut Kristus, mempertebal iman saya sebagai penganut Katolik, untuk mencontoh hukum paling hakiki yang Yesus ajarkan dan tunaikan sendiri di atas kayu Salib: mencintai sesama seperti diri sendiri dan mengampuni setulus-tulusnya sepenuh jiwa dan raga.

**

Saya mengenal Lembah Karmel Cikanyere sekitar 2 tahun lalu, di pertengahan tahun 2014. Saat itu, setelah mengikuti misa di Gereja Katedral Jakarta, saya naik taxi express. Pengemudinya (yang saya yakini bukan kebetulan), seorang Katolik. Sepanjang perjalanan pulang dari Katedral ke Kuningan, kami bercerita banyak hal tentang penyelenggaraan Tuhan, saya pun tak sungkan berbagi cerita tentang masa depan bahwa saya sudah lama bercita-cita hendak sekolah di Amerika. The countless times I begged God to please grant me my one big wish in every church I went into, in whichever part of the world I was.

Sang sopir taxi, sebut saja Pak Agus (maaf saya tak ingat persis namanya) lalu menyambung pembicaraan tentang sebuah mujizat yang boleh terjadi pada dia dan istrinya. Pak Agus pernah divonis mandul oleh dokter. Ia menikah sudah lanjut umur, terpaut hampir 20 tahun dengan sang istri. Lama berusaha kesana kemari menyembuhkan kemampuan fertilisasi, namun tak kunjung membuahkan hasil. Sekali peristiwa, Pak Agus bersama sang istri mengikuti retret penyembuhan luka batin di Cikanyere. Biasa digelar setiap bulan di minggu ke-empat, lokasinya di puncak Cianjur, Jawa Barat. “Ramai orang yang datang Pak, tak hanya Katolik, ada juga agama lain”, begitu Pak Agus berkisah pada saya. “Setelah kembali dari Cikanyere, kami tak putus berdoa, juga Novena Tiga Salam Maria. Lalu kami ke dokter untuk cek kandungan istri. Puji Tuhan sungguh ajaib, dokter yang memeriksa memberitahu istri saya hamil Pak. Itu hanya seminggu setelah kembali dari Cikanyere”, ia berkata terbata-bata.

**

Setelah pertemuan dengan sopir taxi itu, saya kemudian mencari tahu tentang Cikanyere. Sebuah lembah sekaligus biara para Suster, Frater dan Pastor dari ordo Karmel di Puncak Cianjur yang dingin. Biara ini didirikan seorang Romo bernama Yohanes Indrakusuma, yang mendevosikan seluruh hidupnya untuk bertapa, menemui Tuhan dalam keheningan. Perjalanan Romo Yohanes menempuh jalan sebagai pertapa membawanya ke berbagai negara. Ia sekolah di Paris dan Roma, belajar spiritualitas Zen di Jepang, serta tinggal selama beberapa waktu di Shantivanam Ashram di India. Pilihan pelayanan sebagai pertapa rupanya memberi Yohanes karunia sebagai penyembuh. Sudah tak terhitung banyak orang mengalami mujizat penyembuhan oleh Allah melalui doa-doa Romo Yohanes. Ia pun mengembangkan retret penyembuhan yang sebagian besar dikelola Suster Putri Karmel. Dalam retret ini, orang-orang dibantu mencabut pengalaman-pengalaman negatif dan akar dari seluruh masalah hidup kita yakni luka batin. Caranya hanyalah dengan mengampuni, mengampuni dan mengampuni.

**

Setelah sedikit banyak mengenal Lembah Karmel Cikanyere, saya kemudian berusaha mencocokkan jadwal cuti untuk mengikuti retret. Sayangnya kesibukan sebagai wartawan di sebuah tivi nasional membuat saya hampir tak punya waktu untuk berkontemplasi, untuk menyepi sejenak dari keramaian. Kesibukan jualah yang membuat saya nyaris melupakan Cikanyere. Setahun berselang, Agustus 2015, sekembali dari Australia, atasan saya mengizinkan saya mengambil cuti seminggu. Sayangnya, saya mengambil cuti sebelum mengecek bahkan mendaftar menjadi peserta retret. Saat saya menghubungi Lembah Karmel Cikanyere, saya diberitahu bahwa tidak ada jadwal retret yang pas dengan waktu cuti saya. Saya disarankan mendaftar retret di biara Karmel yang lain. Dari situ saya tahu, ternyata Romo Yohanes juga mendirikan sejumlah biara Karmel di beberapa wilayah, dari Jawa hingga Kalimantan. Pilihan saya akhirnya jatuh pada biara Karmel di Tumpang, Malang. Saya mendaftar jadi peserta retret Penyelenggaraan Ilahi (tanpa melalui retret awal yang jadi prasyarat hehe..), karena hanya retret inilah yang cocok dengan jadwal cuti saya.

Di Tumpang, saya bertemu banyak orang tua. Hanya sedikit anak muda menjadi peserta retret. Lokasinya dingin, luas hijau membentang, di kaki gunung Semeru. Biara Karmel Tumpang menyediakan banyak tempat doa, termasuk sebuah ruang kecil untuk adorasi 24 jam. Disitulah saya mengenal Doa Yesus yang tidak mengucapkan kata-kata lain selain nama Yesus yang ajaib. Saya juga mengenal Lectio Divina untuk memahami dan meresapi Sabda Allah, dan pujian-pujian khas komunitas karismatik. Saat menyepi di Tumpang saya mendapat sebuah pengalaman istimewa yang tak akan saya lupakan. Waktu itu saya minta pertanda dari Tuhan selama 4 hari bertapa. Yes I like being a hermit, to immerse myself in solitude, escape from the busyness for a while. And because I’m a very spiritual person, I believe there’s always a sign behind everything. Di hari terakhir, hari Minggu waktu itu, saya mengikuti misa penutup. Seekor belalang sembah hinggap di badan saya, dan terus berada di badan saya selama 3 jam lamanya. Saya berusaha mengusirnya namun dia tetap kembali, merayap bolak balik dari telapak tangan ke kepala saya. Saya percaya ia datang sebagai pertanda. Setelah kembali ke Jakarta saya mencari di internet, makna dari kehadiran belalang sembah dalam kehidupan. Banyak literatur di google menuliskan bahwa belalang sembah adalah binatang spiritual. Dia membawa pesan kuat untuk menyingkir dari keramaian, mencari Tuhan, memprioritaskan Yang Maha Kuasa selama kita hidup. Saya bersyukur untuk tanda yang hadir ini, namun kesibukan kerja kemudian membuat saya terlena, melupakan Tuhan, menempatkan Dia di nomor sekian dalam kehidupan saya. Hasilnya saya sering gelisah pada masa depan, pada impian-impian mulia yang tertanam dalam jiwa. Hampir setahun berlalu setelah berkutat dalam kesibukan yang fana, akhirnya saya putuskan berhenti dari pekerjaan saya sebagai wartawan. Saya harus senantiasa mencari Tuhan, mengubah jalan karir saya menjadi aktivis sosial, mempromosikan nilai empati kepada dunia, dan meretas impian melanjutkan studi Master of Social Work di Amerika Serikat. 25 Juni 2016 akhirnya saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya sebagai News Producer di sebuah televisi nasional.

**

Selama 4 hari di akhir Juli 2016, sang waktu akhirnya mengantar saya ke Cikanyere. Perjalanan dari Jakarta cukup panjang dan melelahkan. Hitung-hitung, enam kali saya gonta-ganti moda transportasi. Berangkat Kamis 21 Juli 2016, jam 13 WIB, saya naik Gojek dari kost ke stasiun Tebet. Berlanjut perjalanan dengan kereta selama 1,5 jam menuju Bogor. Tiba di Bogor, saya bertukar naik angkot (namanya angkot 03, warna hijau biru) dari stasiun menuju terminal Bogor. Kemudian bersesakan dalam minibus L300 bercat warna putih yang mengantar kami menuju Cianjur. Sebelum tiba di Cianjur saya turun di pertigaan Pasar Cipanas. Lalu naik angkot kuning jurusan Mariwati. Hujan cukup deras waktu itu, sekitar jam 6 sore saya tiba di Desa Cikanyere. Tapi biara Karmel masih belum tampak. Akhirnya sopir angkot mengantar saya ke pangkalan ojek yang membawa saya menuju tujuan, sebuah biara nan lapang di lembah Cikanyere. Hujan tipis menyambut saya dalam malam yang temaram. Sedikit percikan air tak surutkan langkah kaki menuju kapel di tengah lembah. Misa sudah dimulai, saya masuk saat bacaan pertama. Pemandangan sedikit berbeda malam itu, ternyata jumlah peserta di Cikanyere jauh lebih banyak dari retret di Tumpang. Hampir 6 kali lipat. Ada 200-an peserta mengikuti misa pembukaan retret di Kamis malam.

20160724_092421

Saya tinggal di Wisma Nazareth. Sekamar bersama dua kawan asal Surabaya yang bekerja di Singapura. Salah satunya bernama Sendi adalah master lulusan NTU. Dan rekannya Frans, lulusan Stanford University, IT Lead di Paypal Singapura. Mereka hanya sebagian kecil dari begitu banyak peserta retret yang datang dari luar negeri. Ada pula yang datang dari Sydney. Retret-retret sebelumnya juga menghimpun peziarah dari Cina, Jerman, hingga Amerika Serikat.

Keesokan harinya kami bangun jam 5 pagi. Lalu memulai sesi retret jam 6 pagi. Semua ritual retret diawali dengan Doa Yesus. Cukup duduk nyaman, bersila bagai pertapa, menutup mata, menarik napas panjang dengan ritme teratur sambil sayup-sayup mendaraskan nama “Yesus, Yesus, Yesus”. Begitu seterusnya selama kira-kira satu jam hanya menyebut nama Yesus. Tiada kata lain yang terucap selain nama Yesus.

Selanjutnya bergantian seorang suster atau frater memberi pengarahan tentang inti retret yakni luka batin. Luka batin adalah semua pengalaman negatif yang pernah terjadi dalam hidup kita dalam segala bentuk sejak kita masih berada dalam kandungan Ibu. Bentuknya bisa berupa penolakan, kesepian, rasa tidak dicintai, fitnah dan konflik. Karena itu setiap manusia di dunia pasti memiliki luka batin, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Luka batin berefek buruk bagi relasi kita dengan sesama, tingkah laku dan pilihan-pilihan kita, karena itu luka batin harus rutin disembuhkan. Dan hanya dengan tulus mengampuni kita dapat menyembuhkan luka batin. Sekali lagi hanya dengan mengampuni!

Puncak retret penyembuhan luka batin adalah dengan membasuh kaki sesama. Sebuah contoh mulia merendahkan diri yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan pada kita. Bahwa Dia, Putra Allah, rela menjadi hamba paling rendah dari para hamba, untuk membasuh kaki para rasulnya. Sebuah tindakan cinta kasih yang luar biasa mulia untuk mengikis keakuan, melunturkan ego sehingga kita mampu saling mengampuni, dan mencintai sesama sebagaimana diri kita sendiri. Acara pembasuhan kaki selalu penuh keharuan, karena disinilah akar luka batin tercerabut, hukum cinta ditegakkan, pintu maaf terbuka, bukan melalui perkataan, tetapi dengan tindakan kasih yang nyata.

Di hari Minggu, retret diakhiri dengan Misa Penyembuhan. Ribuan orang hadir memadati gereja utama yang dibangun bagai stadion olahraga. Berjejer rapi memenuhi semua bangku yang tersedia. Romo Yohanes sang pendiri biara pun hadir memimpin misa bersama para pastor konselebran yang lain. Misa berlangsung khidmat, penuh puji-pujian. Usai komuni, kemudian Romo Yohanes akan memimpin upacara penyembuhan diawali adorasi Sakramen Maha Kudus. Banyak orang mengaku sembuh, bukan karena kuasa manusia, tetapi karena kuasa Tuhan Yesus Kristus.

Saya sendiri mengalami pembaharuan diri yang luar biasa. Api semangat yang kembali bernyala membara, dan keikhlasan untuk menilai semua kejadian dari pandangan positif. Bahwa segala sesuatu, baik atau buruk, adalah rancangan ilahi, terjadi karena kehendak Allah, karena penyelenggaraan kasih-Nya untuk tujuan semata-mata demi kebaikan. Apapun yang terjadi, saya akan tetap memuji Tuhan, Allah yang hidup, Yesus Kristus sang teladan cinta kasih paling agung. Dialah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup.

20160724_122124

P.S:

  1. Setelah mengikuti retret ini, saya dan 4 kawan semakin bersemangat merintis sebuah startup social bernama SALINGBANTU.ORG. Kami berencana merilisnya secara resmi ke publik di awal 2017. Ini sekaligus menjadi project thesis saya. Sebuah gerakan dan platform social yang bermisi mulia untuk mengajak banyak orang peduli pada setiap masalah di lingkungannya melalui prinsip “saling membantu satu sama lain”.
  1. Satu hari setelah retret, sebuah wawancara memantapkan saya untuk mengelola sebuah program sosial dari Ashoka (organisasi global para social entrepreneur) untuk mempromosikan nilai empati pada anak Sekolah Dasar. Saya tak sabar berbagi cerita tentang ini di kebaikan-kebaikan selanjutnya.
  1. Semua proses menuju Amerika masih berjalan. GOD helps me one step at a time. Oh I can’t wait to take over the world. Thank YOU Lord JESUS, my Savior, my Rock, my Salvation.
Advertisements

6 thoughts on “TUHAN, Pengampunan dan Masa Depan

  1. Halo, mau bertanyan, untuk pendaftaran retret Lembah Karmel Cikanyere, via apa ? dan biaya akomodasi sudah termasuk penginapan dan konsumsi ya ? terimakasih.

    Like

    1. Halo Caroline, untuk mendaftat ret-ret di Cikanyere harus menelpon ke sekretariatnya dulu. Ini beberapa nomor kontak sekretariat Karmel Cikanyere
      0263580716 atau
      0263582062 atau 08121800194

      biayanya sampai tahun lalu masih di kisaran 350ribu untuk retret 4 hari, sudah termasuk akomodasi dan konsumsi.
      Terima kasih. semoga bermanfaat

      Like

    1. Hi Feliana, kami masih proses developing. Bukan hanya sistem teknisnya saja, tapi ternyata utk capacity building juga perlu waktu..hehe. Doakan saja mudah2an bisa cepat terwujud dan mewarnai dunia gerakan sosial untuk Indonesia yang lebih baik

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s