Pak Anies yang Baik dan Harga Konsolidasi Politik

“One of the penalties of refusing to participate in politics is that you end up being governed by your inferiors.” ― Plato.

DSCN9174

Beberapa hari setelah lebaran tahun ini, suatu petang saya menelepon Ibu di kampung. Mulanya hendak menanyakan kabarnya saja, kebetulan Ibu akan pensiun sebagai Guru SMP tahun ini. September 2016 nanti Ibu tepat 60 tahun. Yang kedua juga ingin memastikan persiapan keponakan saya yang paling besar, yang pada tahun ini mulai berseragam putih abu-abu (tak usah menebak-nebak berapa usia pamannya ya..hehe). Sebab satu dan lain hal, keponakan saya tinggal dan dirawat Ibu sejak dia bayi, dan saya telah berjanji akan menjadi penyokong finansialnya saat dia kuliah nanti.

Kami bercerita seputar liburan, lalu tiba-tiba obrolan bertukar topik tentang Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang Ibu saya kagumi. Ibu menyimpan nomor handphone Pak Anies sudah lama, dan sesekali berkirim pesan singkat padanya, semenjak saya menjadi relawan Indonesia Mengajar pada 2011 – 2012 silam. Saya yang memberi nomor Pak Anies pada Ibu. Kira-kira 3 kali Ibu pernah mengirim pesan singkat pada Pak Anies, dan ia mengaku senang karena Pak Anies selalu membalas sms-nya dengan santun. Baik saat dilantik menjadi Mendikbud pada Oktober 2014 lalu, begitu pula saat lebaran tahun ini. Dari sebuah desa di Flores, Ibu mengucapkan selamat lebaran pada Pak Anies sekeluarga. “Beberapa jam kemudian, Ema*) dapat balasan. Ucapan terima kasih dari Pak Anies. Dia juga tulis nama istri dan lengkap nama anak-anaknya, sampai yang bungsu bernama Ismail.”, cerita Ibu dalam sambungan telepon.

Hari ini, sekian jam usai Presiden Jokowi mengumumkan reshuffle jilid II Kabinet Kerja, kakak saya di kampung yang tinggal bersama Ibu mengirim pesan via Whatsapp. Dia juga seorang Guru SD berstatus honorer. “Kasihan ya, kenapa Pak Anies harus diganti? Padahal banyak gebrakan-gebrakan bagusnya yang mungkin belum sempat terlaksana. Rendah hati sekali. Lihat SMS dari Ema*) saja dia balas. Itu bukti bahwa dia merakyat.”

Kenapa Pak Anies harus diganti? Sayapun tak tahu jawabannya. Pertanyaan yang sama menyeruak di grup-grup Whatsapp dimana rekan-rekan saya sesama relawan Indonesia Mengajar terhimpun. Juga di grup Whatsapp kumpulan kawan-kawan pegiat literasi dan sesama aktivis sosial. Sebagian kecewa, ada yang mengajak “yuk bikin petisi”, ada juga yang mengirim ulang daftar menteri-menteri zaman orba yang susah mati harus dihafal ketika saya SD dulu, ada yang merespon dengan komentar-komentar lucu. “Yay, Sri Mulyani is back.” “Yang penting rajawali ngepet out.” “Sayang Harmoko gak ikutan masuk kabinet nih.” “Titipan Mamah takkan terganti.” “Pesan moral resapel: kalo mau jadi menteri harus jadi tukang becak dan sopir dulu.” “Ah..buat apa ruwet mikir, yang penting tetap bisa cari makan.”

**

Seperti Ibu, saya mengenal sosok Anies Baswedan sebagai orang baik. Saya memang tidak sering berinteraksi dengan Pak Anies sebanyak orang-orang yang pernah bekerja langsung dengannya. Tapi sejauh interaksi yang saya alami, saya belajar banyak dari Pak Anies, agar tetap keras kepala mencintai Indonesia, pun selalu positif dan rendah hati apapun kondisinya. “Dipuji tidak terbang, dikritik tidak tumbang”, itu salah satu quote-nya yang saya suka. Jauh sebelum saya merantau ke Jawa, saya sudah pernah membaca sejumlah reportase tentang Anies Baswedan. Hingga akhirnya bisa melihat langsung sosok Pak Anies yang kalem saat Debat Capres 2009 silam. Waktu itu, saya baru diterima kerja menjadi news reporter di Trans TV. Saya hadir menonton langsung acara Debat Capres yang dihelat di studio terbesar milik Trans TV, dimana Anies menjadi moderator. Santun, tenang dan cerdas.

2 tahun sekian bulan bekerja di Trans TV, akhirnya saya mengundurkan diri setelah terpilih menjadi salah satu Pengajar Muda angkatan III, relawan Indonesia Mengajar, program pengiriman guru ke pelosok yang diinisiasi Pak Anies. Sejak saat itu, kesempatan berinteraksi dengannya menjadi lebih sering. Pernah saya duduk makan bareng Pak Anies saat pelatihan Pengajar Muda, sama-sama menyantap nasi dengan lauk ikan teri. Usai makan, saya izin merapikan meja dan mengumpulkan piring, tapi ditolaknya. “Tak perlu Wil, nanti saya bereskan sendiri.”

Sewaktu menjalani masa pelayanan sebagai Pengajar Muda di Riau, Pak Anies pernah mengunjungi saya dan rekan-rekan. Ia menjadi pembicara dalam sebuah seminar di Pekanbaru, dan kami diundang bertemu. Kami berangkat dari desa penempatan masing-masing, menemaninya bertandang ke Riau Pos, ke UIN Pekanbaru, dan menghadiri seminarnya di sebuah hotel. Pagi hari sebelum seminar, saya ikut sarapan bersamanya. Tanpa sungkan dia mengenalkan saya pada Romo Franz Magnis Suseno, juga menjadi pembicara dalam seminar, yang duduk di sampingnya saat makan pagi. “Romo ini Wilibrodus, Pengajar Muda dari Flores.” Saya duduk di tengah, diapit Pak Anies dan Romo Magnis. Saya bangga sekali karena itulah pertama kali saya ngobrol langsung tentang sejumlah topik dengan Romo Magnis, bertukar kontak dengan pastor berambut putih yang sederhana dan karismatik. Dan ini bisa terjadi karena Pak Anies. Saya bahagia menghabiskan banyak waktu dan uang selama hidup untuk investasi pemikiran serta memperluas jaringan, bukan untuk memperbanyak benda yang tidak selalu saya butuhkan.

blessingsss

Setelah purna tugas sebagai relawan Indonesia Mengajar, kesempatan bertemu dengan Pak Anies terus berulang. Saya pernah duduk bersisian menjadi pembicara bersama dengannya dalam sebuah pesta blogger bertajuk KOMPASIANIVAL, November 2012 silam. Pertengahan tahun 2013, saya turut menemaninya dalam kunjungan ke sebuah desa di Maluku Tenggara Barat. Saya mendokumentasikan perjalanannya menyambangi daerah pelayanan Indonesia Mengajar untuk sebuah program TV bernama Lentera Indonesia. Satu pesan Pak Anies pada anak-anak desa saat itu, yang selalu saya ingat: “rumah boleh di kampung tapi mimpi taruh di langit”.

Beberapa waktu berselang, saya agak kecewa mengetahui Pak Anies maju dalam konvensi capres Partai Demokrat. Saya diundang menjadi salah satu pendukungnya di acara konvensi di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Tapi sebelum Pak Anies maju, saya balik duluan. Saya tidak sempat melihat dia memaparkan pandangannya, visi dan misinya mengikuti konvensi. Saya merasa aneh mengenakan atribut partai dimana saya sendiri bukan anggotanya. Karena itu saya putuskan tak mau berlama-lama ada di acara konvensi.

Kekecewaan saya bertambah ketika Pak Anies yang masih menjabat Rektor Universitas Paramadina, memutuskan jadi juru bicara capres Jokowi. Kantor bahkan sempat menugaskan saya melobi Pak Anies untuk menjadi narasumber saat pilpres berlangsung. “Wah oke juga nih kalo Anies bisa bersanding dalam satu talkshow bersama Mahfud MD (jubir dari Capres Prabowo)”, begitu komentar seorang rekan produser di NET., televisi tempat saya pernah bekerja. Talkshow ini pada akhirnya dihelat Metro TV dalam program Mata Najwa. Ramai orang menonton dua orang jubir membela capres yang diwakilinya masing-masing. Saya tetap kecewa. Saya tahu ini pilihan politik Pak Anies untuk terlibat membawa perubahan dan membangun bangsa. Namun tanpa bermaksud menghakimi, saya menilai ini pilihan politik yang oportunistis.

**

Anies Baswedan (yang saya kenal) tetaplah orang baik apapun pilihan politiknya. Sebagian besar kerabat saya yang menjadi Guru di Nusa Tenggara Timur mengaku merasakan banyak perubahan positif selama 20 bulan Pak Anies menjadi menteri. Kawan-kawan saya aktivis pendidikan pun mengamini. Sejumlah survey di 6 bulan dan 1 tahun pertama pemerintahan Jokowi-JK juga menilai kinerja Anies Baswedan baik. Menteri Anies merintis program sekolah tanpa kekerasan, guru garis depan, memberi solusi yang adil ketika banyak guru di pelosok mengeluh betapa rumitnya penerapan Kurikulum 2013 warisan Mendikbud sebelumnya, ujian nasional tak lagi menjadi momok, sejumlah sekolah mulai menyelenggarakan ujian nasional berbasis komputer, anjuran bagi para orangtua mengantar anak di hari pertama sekolah, no plonco anymore, hibah buku bagi pegiat taman baca, bantuan dana dan beasiswa bagi penulis yang disambut sukacita oleh para blogger, hingga meresmikan PAUD percontohan bernama “0 Kilometer” yang jadi obrolan ibu-ibu wanita karier. Tak lupa pula memo-nya yang sempat bocor ke publik dan jadi berita hangat di media, tentang betapa pentingnya membangun budaya melayani (culture of service) di kalangan pegawai Kemendikbud.

IMG_5792

Itulah secuil gebrakan Anies Baswedan yang saya ikuti. Hanya sedikit yang saya tahu. Barangkali banyak yang sudah dibuat dan rencana-rencana lain yang akan diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Saya tidak menulis ini untuk memuji-muji Anies atau berpihak pada sosok yang tersingkir. Tidak sama sekali. Toh pada akhirnya kita hanya bisa memaklumi: “ini hak prerogatifnya Presiden.”

Di pemerintahan, pejabat yang populer, positif dan berkinerja baik saja mungkin sangat tidak cukup tanpa modal dukungan politik yang kuat. Dan begitulah politik. Seni kemungkinan. Selalu berubah, tak ada yang tetap. Siapa pernah sangka, seorang juru bicara capres yang kemudian menjadi presiden hanya bertahan 20 bulan dipilih jadi pembantunya. Barangkali itulah harga konsolidasi politik negara kita. Ada yang datang, ada yang ditendang. Ada yang mampir, ada pula yang tersingkir. Yang semula muskil, bisa menjadi sangkil. Dan seperti kata Pak Anies di surat terakhirnya sebagai menteri: “tugas ini telah dicukupkan.“

“Siapapun yang duduk di pemerintahan, kita harus tetap berjuang dan kerja keras. Menjalani amanah masing-masing. Cari makan biar keluarga gak kelaparan”, seorang kawan menutup asumsi dan spekulasi panjang lebar di grup Whatsapp kami siang tadi.

(Rabu, 27 Juli 2016)

*)Ema: panggilan untuk Mama atau Emak di sejumlah wilayah di Flores.

IMG_6212

Advertisements

2 thoughts on “Pak Anies yang Baik dan Harga Konsolidasi Politik

  1. Pemikiran kita sama lho Willy, tante malah pernah bertanya langsung kpd pak Anies waktu beliau mampir ke Gajus dan beliau menjawab hanya dg senyum. Yaa….itu pilihan beliau yg patut kita hargai. Tante sempat galau saat selesai konvrnsi yg ga jelas hasilnya itu dan pak Anies malah jadi jubirnya Jokowi,adduuh….sakitnya tuh di siniii. Sewaktu beliau diangkat jadi Mendiknas,tante sih senang, tp entah mengapa memang terbersit prasangka kalau itu tdk akan lama dan kemarrn prasangka itu terbukti.
    Tante bersyukur dg kembalinya pak Anies, semoga beliau busa berkiprah lebih seru lagi.
    Mari kita dukung!!

    Like

    1. Iya tante..tapi pada akhirnya saya tetap mendukung. Seperti kutipan dari Plato yang saya pasang di awal tulisan: “kalau kita menolak terlibat dalam politik, salah satu penaltinya adalah kita akan dipimpin/ diatur oleh orang-orang yang tidak lebih baik dari kita.”
      Karena itu saya tetap mendukung Pak Anies, atau siapapun orang lain yang saya kenal baik dan berpotensi mengelola negara. Karena tujuan berpolitik awalnya memang untuk perubahan yang lebih baik.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s