Om Telolet Om: Tuhan Maha Lucu

“Humor is mankind’s greatest blessing.” -Mark Twain


Sekitar dua bulan ini saya “menyingkir” sejenak dari hiruk pikuk media sosial. Twitter saya gembok, instagram dikunci, update status facebook pun distop. Rasanya cukup adem..lebih produktif nulis, tapi perjuangannya gak ringan kawan, suer seberat menutup pintu hati dari mantan! Ujiannya biasa muncul saat tiba-tiba rasa galau menyerang, atau demotivasi dalam aktivitas sehari-hari. Jadilah sekali dua kali “ngintip” apa yang lagi riuh di medsos, berselancar sekian menit, jadi silent reader, lalu akhirnya bosan.

Ada beberapa alasan sebenarnya. Yang pertama, super personal, entah mengapa akhir-akhir ini social media seolah membius saya untuk terlibat dalam ajang adu pamer, pokoknya impress people dulu deh, value urusan kemudian. Ini autokritik tentunya. Bagi pemimpi seperti saya, social media memang punya manfaat positif: terpacu meraih lebih dari yang ada saat ini, tapi di saat yang sama saya lupa nilainya, melebihkan kemasan sampai-sampai lupa bersyukur. Karena itu, pada satu titik (boleh ditilik di sini), saya merasa perlu “menyepi” dari media sosial.

Alasan lain, lebih mengejutkan. Saya pernah dievaluasi rekan di organisasi sosial tempat saya belajar saat ini, dia lebih tepatnya mentor saya, seorang bule; menilai isi social media saya terlalu agamis. Kami sempat berdebat ringan, saya bilang: “itu hal biasa buat orang Indonesia. Sekali-kali mengutip ayat kitab suci agama sendiri untuk menghadirkan suasana positif lewat medsos, adalah lumrah.” Bahkan hal yang sama pun bisa dilakukan pemimpin-pemimpin komunitas di Indonesia. Frasa “Puji Tuhan”, “Alhamdulilah”, “Halleluya”, “Barakallah”, sudah melekat dalam local wisdom orang Indonesia. Tiap orang bebas mengekspresikan agamanya, asalkan tidak bertujuan menghina atau mendiskreditkan golongan lain. Dia merespon lebih serius, katanya: “itu hal tabu buat kami. Agama harusnya hal personal, antara kamu dan Tuhan, bukan milik publik. Tapi alasan yang utama, kamu sekarang bagian dari organisasi global, kamu terhubung dengan banyak kolega dari berbagai budaya dan bangsa, belajarlah untuk menjadi bagian dari komunitas internasional.” Dalam hati saya tetap tak sepakat, saya berkukuh social media adalah platform pribadi, dan ekspresi keimanan adalah bagian dari personal value saya. Tapi akhirnya saya mengalah, dan mengganggap itu evaluasi konstruktif bagi saya supaya lepas sesaat dari dunia maya, dan fokus menghabiskan waktu melakukan lebih banyak kerja-kerja nyata, berkarya dalam sunyi.

20161221_220145-1


Oke…tapi curhat soal gembok socmed di atas hanyalah pengantar. Poin utama dari tulisan ini sebenarnya bukan itu. Ceritanya, hari ini saya tergoda lagi membuka facebook (hehe..betul khan, memang berat). Saya spontan merasa kuper luar biasa, karena hampir 80 persen timeline kawan-kawan saya menggaungkan satu “demam” baru. Namanya, seperti judul di atas “om telolet om”. Banyak status mengusung rasa gembira, ada pula yang skeptis menganggap kurang kerjaan, biasa saja, joke kelas rendah,  ada yang bangga karena “om telolet om” mendunia, bahkan sampai di-remix jadi musik dugem racikan DJ mancanegara. Senang mengamati “jiwa piknik” orang Indonesia di media sosial, sungguh membuncah karena sebuah fenomena sederhana, trending topic dari pantura Jawa.

Seketika saya teringat masa kecil dulu, di sebuah kampung bernama Mauponggo, di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Tahun 90-an ketika pesawat yang melesat di atas udara melintasi kampung kami masih sangat langka, barangkali sebulan satu kali; saya dan kawan-kawan biasa memandang langit, menaruh kekaguman luar biasa pada burung besi nun jauh di balik awan. Kadang kami berlari, berhamburan keluar rumah, ketika suaranya menderu di langit di malam hari. Bersamaan kami berteriak dengan mulut menengadah ke angkasa “pesawaat..woooy…pesawat”. Memang kampungan, kolot tapi sungguh menghibur. Kami menemukan kebahagiaan pada pengalaman melihat pesawat yang melesat sepenggal di udara, sekali dua kali dalam sebulan.

Tak hanya pada pesawat, terhadap mobil-mobil yang lewat di darat pun kami sedemikian kampungan adanya. Era 90-an, di kampung kami hanya ada satu dua truk dan bus agak besar yang setia mengangkut penumpang ke pasar-pasar tradisional di jalur lintas Flores, atau jadi moda transportasi antarkabupaten. Tapi sekali lagi tak banyak. Mobil pribadi apalagi, tak sebanding jumlah rodanya. Yang punya mungkin hanya keluarga bupati, atau orang paling kaya di kampung, saudagar Cina pemilik toko kelontong.

Kadang ketika bermain di tepi jalan, ada mobil lewat, kami memandang dengan takjub, berdesir pertanyaan-pertanyaan polos dalam dada, siapa di dalam kendaraan itu. Kami akan menatap lama, tak berkedip sekian menit, dan tatkala penumpang di dalamnya dengan ramah membuka jendela, tersenyum lalu melambaikan tangan, kamipun tersipu-sipu malu, membalas mereka dengan senyum dibumbui cekikikan anak desa, serta lambaian tangan yang renyah hingga mobil lenyap dari pandangan mata. Rasanya sueeer kayak artis ibu kota baru saja lewat..hahaha.

Saya membayangkan pengalaman masa kecil yang kurang lebih mirip dengan anak-anak di pantai utara Jawa. Bahagia adalah keadaan pikiran, dan karenanya kita tidak bisa menyeragamkan konsep kelucuan. Kalau biasanya hiburan mereka identik dengan dangdut dan campursari, kini mereka ketemu bentuk keriaan yang lain, pada suara klakson bus. Sepanjang tahun hidup di bantaran jalan nasional yang sibuk, memberi mereka pengalaman berbeda pada bus-bus besar yang lalu lalang, dan entah bagaimana sejarahnya, suara klakson telah menjadi candu, mereka rela menunggu lama, berburu dengan waktu demi mendapatkan hiburan sekian menit dari bunyi telolet..telolet itu.

Bagi sebagian orang ini barangkali fenomena yang aneh, atau bahkan sepele, hiburan yang tacky, alay kurang kerjaan, atau low joke. Ada yang mungkin menilainya norak, di saat bangsa lain menghabiskan energi untuk kemajuan teknologi, di Indonesia klakson justru menjadi adiksi. Tetapi siapakah kita berhak menghakimi? Tidak juga saya. Saya memandang dari pengalaman yang sama, menemukan kegembiraan dari hal-hal sederhana. Bagi anak-anak pantura, mungkin ini sebuah renjana. Sesuatu yang mereka lakukan dengan sadar, berulang-ulang, dengan niat yang besar agar terhibur dan gembira. Tidak perlu dipungkiri, bagi mayoritas pengendara, terutama di kota-kota metro, bunyi klakson yang overdosis adalah sebuah gangguan, sesuatu yang bikin kesal dan menyulut amarah, tapi tidak bagi anak-anak ini. Mereka membuatnya keriaan wajah baru. Honking is related to annoyance, but Indonesian children made it festive. And it goes BOOM worldwide..!!

Tuhan memang Maha Asyik. Dia menghadirkan hiburan bernama “om telolet om” ini di saat ruang-ruang diskusi Indonesia baik di dunia maya maupun nyata terkuras untuk perdebatan-perdebatan tak berujung, yang muncul tiap tahun karena hal-hal personal yang prinsipil, yang sejujurnya buat saya, perdebatan yang agak kurang waras. Dan kita perlu bersyukur, sesuatu kebetulan yang (sebenarnya) menguntungkan, bahwa justru fenomena “om telolet om” inilah yang mendunia, bukan ribut-ribut soal Yuan dan uang rupiah baru, bukan soal kafir dan mata sipit, soal tukang sapu yang rajin sweeping, soal Sari Roti, bukan soal topi bayi unyu berwarna merah, pohon cemara yang bisa menyala kerlap-kerlip, bukan pula tentang larangan automurtad: mengucapkan Selamat Natal tiap 25 Desember.

Om Telolet Om.. Terima kasih!! Kehebohanmu serupa menyeruput es teh di tengah cuaca panas terik. Terima kasih telah mendinginkan “suasana” di negeri bhineka tunggal ika ini. Such a serendipitous bliss! If you think that telolet thingy is kinda disturbing, you need to learn how to be happy by simple things in life. It sounds pretty much nicer than those religious-laced speeches. Yuuuk belajar bergembira dari kejadian-kejadian sederhana, pupuk “jiwa piknik” yang sehat dari hal-hal biasa, berupayalah menemukan Tuhan yang Maha Lucu dalam hidup sehari-hari.

Everytime when you feel sad or lonely, just remember this mantra: “Om Telolet Om”.

-WM

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s