The Journey of Emptiness*

: (Renungan Akhir Tahun)


Kita semua berdiri di wadas pengembaraan panjang,

tetapi sedikit dari kita mengerti tempat berani melabuhkan pilihan.

Kita tidak pernah dapat meramal bila kita akhirnya menjalani.

Sejak tapak awal kita lalui sekian perhentian,

kemudian ada yang akan membangun kemah,

atau mungkin mundur pergi,

atau beberapa memilih terus mendaki.


Sesekali kedukaan datang dan menghantam batin kita.

Begitu pula sukacita kadang mampir bertamu,

dan ia akan duduk makan menemani kita di kala hari mujur,

sejenak saja hingga kita ingin berkelahi dengan waktu.

Kita singgahi kehilangan demi kehilangan, perjumpaan lepas perjumpaan,

sampai kita menemukan jalan ke rumah kembali pada-NYA.

di-laut


Kita berganti generasi, berlaksa tahun matahari telah kita lalui.

Kita meminjam raga yang fana, sedapat napas membau angin sejati.

Kadang kala kita musti sembunyi, kadang waktu memberi kita tampil ke muka.

Kita akan selalu menyimpan secuil ragu pada apa yang kita tunggu,

berharap keajaiban menyingkap tabir mimpi dan harapan,

sampai datang sesuatu yang bisa membentuk kita menjadi sekeras batu.


Kita tahu kita pernah begitu dalam jatuh lalu bangkit kembali,

kita sadar kita pernah muncul dan tenggelam, tertawa dan bersedih.

Tetapi kita musti tetap percaya…,

IA selalu sedia bertahan berdiri dan menopang,

walau sejauh ini; bagi sebagian dari kita,

IA masih sebongkah kebenaran semu dalam pikiran pribadi.

renungan


Saban kali tak satu kepalapun mampu pahami kembara ini.

Satu dari kitapun bahkan tidak mengerti

mengapa kita melakukan apa yang selalu kita kerjakan?

Hidup selamanya hanyalah level kekosongan,

bagai sebuah piala perunggu hampa untuk diisi bulir semangat,

tetes harap, mimpi dan pengalaman, serpih salah dan penyesalan.

Tetapi piala itu tak pernah menjadi penuh, tak pernah selesai.

Lalu laksana Sisifus** di puncak Gunung Yunani

batu-batu yang menggelinding itu,  kita angkat dan susun kembali.

Kita menyimpan kepahitan dalam pencapaian,

kita menggurat pengorbanan pada torehan kejayaan.


Bergiranglah, oh musafir cinta,

desaklah DIA, buatlah TUHAN jatuh hati..!


Sebab ini sebuah pengembaraan panjang.

Sampai kita tahu bahwa kita berharga mulia

Sampai kejayaan datang membangkitkan kita,

membawa kita melayang melihat jiwa kita sendiri.

Tak seorang pun mampu pahami,

hanya kita dan DIA,

dalam kelana menuju ke rumah, kembali pada-NYA.

di-langit


OH. Psalm 90:12,

-WM


*)terinspirasi dari lagu Journey oleh Angela Zhang

**)mitos Sisifus, sebuah esai filsafat karya Albert Camus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s