Berempati pada Nyamuk :)

(cerita yang tertunda sejak akhir 2016 lalu)

Melihat judul di atas, saya yakin banyak pembaca yang mampir ke blog saya akan bergejolak penuh tanda tanya: ada apa dengan orang ini? Kok bisa-bisanya membahas nyamuk, hewan kecil tak berfaedah apa-apa. Jangan kaget bin astaga, hei kawan! Saya pun heran pada diri sendiri. Bagaimana mungkin, saya yang bisanya cuma nulis puisi penuh drama atau sekali-kali bikin cerita bergelora sok menginspirasi, tiba-tiba saja terpikir menulis tentang nyamuk? Iya.. seekor n-y-a-m-u-k, pagi tadi, bertubuh mungil abu-abu, setidaknya sukses ngajarin saya untuk rajin menulis lagi..:-)

nyamuk

Saya mau mulai dengan satu pertanyaan sederhana. Manteman, pernahkah Anda merasa bersalah setelah membunuh seekor nyamuk? Hanya dengan sekali tepok langsung tepar nyamuknya. Saya baru merasakannya beberapa jam lalu. Pagi tadi ketika sedang sarapan, seekor nyamuk mampir ke meja makan, sangat dekat dengan posisi tangan kanan saya yang sedang memegang sendok. Tanpa pikir panjang, saya menepuk meja dengan telapak tangan persis di tempat nyamuk itu hinggap. PLAK!!! Seketika ia langsung modyaar, kaku tanpa pemberontakan. Tetapi spontan saja rasa bersalah muncul dalam hati saya. Saya nggak pernah punya pengalaman seperti ini sebelumnya. Dalam kalbu ada yang berkecamuk: apa-apaan ini? Usai membunuh satu ekor nyamuk, kok saya jadi merasa bersalah.

Saya ingat dulu waktu kecil di kampung, saya senang sekali berburu nyamuk-nyamuk nakal dengan raket listrik. Rasanya sungguh seru mendengar bunyi krecek..krecek tanda nyamuk kehangusan terjebak dalam raket. Atau ada juga cara lain yang diajarkan orang tua saya, kami biasa menangkap nyamuk pakai piring dari bahan kaleng yang dilumuri minyak goreng. Cara ini ampuh, banyak nyamuk terperangkap dalam lapisan minyak di piring. Sudah tak terhitung berapa banyak nyamuk yang telah saya bunuh, dan saya tidak pernah merasa bersalah. Saya pikir nyamuk itu pengganggu yang wajib dibasmi. Nyamuk juga sumber penyakit, pembawa banyak virus berbahaya bagi kesehatan. Namun entah kenapa, pagi tadi saya merasa berbeda. Saya merasa sedih telah membunuh seekor nyamuk. Saya merasa trenyuh melihat tubuh super mungil dan tipis itu teronggok kaku di atas meja hanya dengan satu tepukan. Saya merasa sedemikian berempati dengan nyamuk. Bagaimana jika saya yang menjadi nyamuk itu, apa rasanya jika saya ada di posisi dia? Apakah nyamuk juga bernyawa sehingga dia bisa memandang dari alam tak kasat mata, melihat tubuhnya yang meregang kaku, dan sang pembunuh yang duduk manis di dekatnya?

Saya sungguh tidak punya jawaban tentang ini. Saya hanya merasa sedemikian berbeda, ada yang berubah dalam diri saya. Dulu saya tidak pernah menyesal membunuh nyamuk atau sebangsanya yang kecil-kecil semacam semut, tetapi sekarang saya merasa bersalah. Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan, bukan?

Saya sadar, bagi sebagian orang tulisan ini memang rada konyol. Buat apa habisin waktu dan energi, tenaga dan pikiran hanya untuk mengetik sekian ratus kata soal penyesalan telah membunuh nyamuk. Tetapi saya terdorong melakukan ini, saya tidak tahu mengapa saya menjadi sedemikian dramatis setelah membunuh seekor nyamuk..hiks-hiks.

Untuk menjawab rasa penasaran, saya kemudian membuka google, mencoba mencari jawaban dalam situs segala tahu itu. Barangkali om gugel punya sedikit pencerahan tentang hukum dan aturan membunuh binatang. Banyak paparan tentang hukum-hukum agama yang mengatur tentang perilaku kita, manusia terhadap makhluk hidup lain termasuk binatang.

Banyak yang menerangkan bahwa nyamuk tergolong binatang yang tidak membawa manfaat bagi manusia, bahkan membahayakan kesehatan manusia. Sehingga nyamuk boleh dibunuh. Sungguh pemikiran yang manusia-sentris, tetapi memang begitulah kita adanya. Manusia, tanpa disadari memang terlahir sebagai makhluk pembunuh. Hampir saban hari kita “manusia” tidak pernah lepas dari pembunuhan, sadar atau tidak kita sedang melakukannya.

Tetapi cobalah berpikir demikian. Jika Anda menjalankan perintah atau dogma agama “jangan membunuh atau jangan menyakiti”, maka Anda akan menganggap membunuh atau menyakiti makhluk hidup melanggar perintah agama. Lalu bagaimana dengan nyamuk? Bukankah nyamuk juga makhluk hidup?

Saya tidak mau berdebat panjang lebar tentang dogma membunuh nyamuk. Satu hal yang mau saya highlight di sini adalah betapa berharganya memiliki empati yang dalam, sampai-sampai seorang manusia berdosa seperti saya bisa memandang dari perspektif hewan, bahkan dari hewan kecil yang dianggap tak berguna.

Jikalau Anda bingung mengartikan empati (sebab empati berbeda dengan simpati), cara paling sederhana adalah membuat perspective taking, biasanya dengan pertanyaan sederhana: Bagaimana kalau saya menjadi orang itu? Bagaimana kalau saya ada di posisi dia? Atau dalam kasus ini, bagaimana kalau saya menjadi seekor nyamuk?

Empati memang adalah gift, nilai yang tidak serta merta ada pada semua orang, tetapi empati bisa dilatih. Sebuah kebaikan kecil yang kita lakukan dapat membangun empati, termasuk dari hal terkecil, tidak menyakiti binatang seperti nyamuk.

empathy

Agama mengajarkan selama ribuan tahun kepada para pengikutnya untuk “mengasihi sesama manusia”. Seiring dengan itu, ilmu pengetahuan juga memberikan sedikit harapan bagi kita untuk membangun sesuatu yang disebut “out-group empathy”. Dalam hal ini adalah grup di luar manusia. Silakan Anda caritahu di google, ada banyak literature yang menulis tentang manfaat nyamuk. Salah satunya ini –> manfaat nyamuk untuk kesehatan.  Sebab bagi DIA, tidak ada ciptaan yang sia-sia.

Pada umumnya, manusia tidak mampu berempati kecuali mereka merupakan bagian dari “in-group” yang memiliki kesamaan. Sementara yang berada di “out-group” dikecualikan dari lingkaran empati kita. Sekarang, bayangkan jika kita bisa membangun empati lebih daripada identitas kita sebagai manusia! Sekali lagi bayangkan itu! Betapa damainya dunia ini karena pada yang bukan manusia saja kita bisa berempati, apalagi pada manusia.

Demikian saja. Semoga tulisan rada aneh ini, berfaedah untuk yang membacanya..:-)

Salam Damai, fellas!

Pānātipātā veramani sikkhapadam samādiyāmi. (Aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan guna mencapai samadi) – Buddha

 [14.12.2016]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s