Ibuk Punya Fesbuk

Seumur-umur, selama 3 dekade ada di dunia, saya tidak banyak mendokumentasikan cerita tentang Ibu saya sendiri. Saya telah menulis banyak memoar tentang tokoh-tokoh inspiratif, meliput kisah para penggerak sosial dan membuat stories of change mereka, tapi hampir tidak pernah menulis kisah sederhana tentang perempuan yang telah melahirkan saya. Saya meninggalkan rumah sejak umur 14 tahun untuk melanjutkan sekolah, kemudian merantau hingga saat ini. Sehingga, saya tidak punya banyak dokumentasi bersama Ibu.


bersama Mama.jpg


Sejak 2016 lalu, Ibu akhirnya punya sebuah hape layar sentuh. Ia mendapatnya sebagai hadiah dari koperasi kredit tempatnya berkarya sekian tahun, melayani banyak nasabah simpan pinjam. Ia menjadi anggota badan pengawas dari koperasi itu. Merknya Nokia Lumia, begitu ceritanya pada saya. Sekali waktu, Ia pernah meminta saya membelikannya, namun saya memilih mengirimkannya uang. Saya khawatir Ibu gagap teknologi. Maafkan saya, Bu!

Suatu hari pada medio 2016, ketika kembali membuka laman facebook, sebuah permintaan pertemanan baru sontak mengagetkan saya. Seorang bernama Priska Nirmala hendak menjadi kawan saya di social media paling populer ini. Ia bukan orang lain. Ia ibu saya sendiri. Saya tak pernah menyangka, suatu waktu Ibu saya punya akun media sosial. Rupanya hape layar sentuh itu telah memberinya banyak kemungkinan untuk berkomunikasi tak berbatas jarak. Bukan bermaksud mengecilkan kapabilitasnya. Saya tahu Ibu saya sosok yang hebat, ia seorang pendidik, boleh dibilang ia aktivis di kampung kami. Itu karena ia aktif di banyak kegiatan sosial. Ia contoh hidup yang mengajari saya untuk melayani, membagi kebaikan, mendevosikan talenta diri bagi sesama.


facebookema
Kami memanggilnya “EMA”, panggilan khas orang Flores untuk Ibu/ Mama.

Rasa kaget muncul karena saya tahu betul Ibu saya bukan sosok yang suka pamer. Ia berkarya dalam sunyi. Ia juga mendidik kami, anak-anaknya, dalam kesederhanaan. Ia baru memegang hape pada tahun 2008 setelah saya lulus kuliah, mendapat pekerjaan pertama dan mampu hidup mandiri. Ia yang hidup di desa tentu jauh ketinggalan dibanding banyak ibu-ibu lain yang tinggal di kota, dan mampu mengakses layanan komunikasi dengan mudah. Maka tak pernah terbersit sekalipun dalam benak saya bahwa satu saat saya akan berteman virtual dengan Ibu sendiri lewat social media bernama facebook.

Banyak orang mungkin menilai tulisan saya ini kolot, gak kekinian, hari gini masih bahas siapa punya akun facebook. Sungguh, ini sesuatu yang tak lumrah bagi seorang perempuan baya yang hidup di desa. Lebih dari rasa kaget, saya sebenarnya khawatir. Saya takut facebook perlahan-lahan mengubah karakter Ibu saya, membuat dia susah menyaring gempuran arus informasi yang berseliweran di media sosial, atau bahkan membuat dia lupa waktu. Bermacam-macam dampak negatif facebook seketika muncul dalam pikiran saya, semata-mata karena saya cemas. Meski betapa mudahnya media sosial membangun jejaring pertemanan, saya khawatir efek mudharatnya terjadi pada Ibu saya. Saya bahkan pernah berdoa, beberapa tahun lalu, semoga Ibu saya tidak pernah mengenal dan punya akun facebook.

Seketika saya ingat, saya punya beberapa teman di facebook yang merupakan ibu-ibu. Dua diantaranya masih kerap saling menyapa, jika waktu mengizinkan kami bersua di facebook. Seorang bernama Tante Yulhaida Badar, host mother saat saya mengajar setahun di Riau dulu. Satu lagi Bunda Yuni Subali, sosok inspiratif, pendiri Sekolah Merah Putih, pusat kegiatan belajar bagi anak-anak dhuafa yang berlokasi di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Usia mereka sebenarnya sepantaran Ibu saya, sekitar kepala 6. Saya justru belajar banyak nilai-nilai hidup dari mereka yang sebagian besar mereka suarakan lewat facebook.

Bagaimana bisa saya justru cemas bahwa facebook akan memberi dampak negatif pada Ibu saya? Ketakutan yang sungguh tak beralasan. Saya mungkin berlebihan, atau terlampau dini memandang sepele pada Ibu sendiri, menilainya seolah-olah anak kecil yang gak ngerti apa-apa.


mamawaktupensiun
Acara perpisahan bersama rekan-rekan guru di sekolah tempat Ibu mengajar puluhan tahun. Ibu saya (duduk, tengah) resmi pensiun pada September 2016 lalu.

Barangkali, meski belum banyak yang bisa ia bagi, Ibu tahu ia tidak bisa melawan perkembangan zaman. Ia bagian dari perubahan. Anak-anaknya telah pergi jauh, melintas batas pulau dan negara, mau tak mau ia harus belajar menyesuaikan diri. Dahulu ia masih rajin mengirim pesan singkat ketika ada anggota keluarga yang berulang tahun, atau ketika kami perlu membagi kebahagiaan saat momen hari raya. Kini ia menggunakan facebook. Ia tak terlalu sering update status, sesekali saja, barangkali sebulan satu kali. Sebagian besar isi status facebooknya adalah ucapan selamat ulang tahun, cerita pengabdiannya sebagai guru, pesan penghiburan bagi yang sedang berduka, atau sesekali ia menulis harapannya pada Indonesia yang damai. Barangkali ia turut terpanggil menggunakan media sosial semata-mata hanya untuk menyuarakan kebaikan saja.

Terima kasih Ibuku. Terima kasih telah menjadi teladan paling utama tentang kebaikan. Terima kasih telah mengajarkan arti integritas yang sejati, tetap menampilkan citra diri yang sama, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Kalau merasa rindu, bukalah facebook ya Bu! Lihatlah ceritaku, cerita kami, perjuangan anak-anakmu merengkuh dunia. Hanya itu yang aku bagi di sosial media. Semoga engkau bangga Ibu, bahwa doamu yang setia, air matamu yang penuh damba, akan menjadi nyata. Sebab orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak sorai. Semoga engkau sehat,  terus woles dan bahagia.


download.jpg


kemarin/ di batas pulau/ cuma sebungkus kecupan dan tanda salib di dahi/ kau lepas aku pada kisah jalan jauh// larut kita dalam kehilangan cerita/ kusangsi kau separuh lupa/ mendetik lari lerai masa/ dari hilang timbul mentari/ ketika lepuh kakiku menyusur siang malam baru/ dalam serakan musim tak tentu//

tak perlu cemas mama// tuhan menjagaku// tuhan mendengar doa kita// impian memang berkawan perih/ tetapi ia selalu adil pada yang setia memberi//

meski busur benua merentang jarak/ kemasan hari terus berlari/ dan jarum waktu mendetak buru-buru/ kita selalu dapat bersua// di sebuah jendela maya/ namanya buku muka//
tertawalah mama!/ tunggu sampai aku kembali//  rumah segala harap kelak menjadi pasti//

[2017]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s