ABOUT ME

IMG_20170819_203010_873WILI, WILBRO, ARI, atau disapa BROWIL bernama lengkap WILIBRODUS MARIANUS BATA, lahir di Bajawa, Flores pada 6 November 1986. Ia tumbuh dari sebuah kampung bernama Mauponggo, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Hidup menyambutnya sebagai musafir, begitulah hikayat perjuangan WILI mengisi piala kosongnya. 14 tahun ia dibesarkan sebagai anak desa, kemudian hijrah ke Ende, kota di tengah Flores, tempat Bung Karno pernah tinggal sebelum masa kemerdekaan. Di Ende ia menempuh pendidikan SMA selama 3 tahun. Setamat SMA, WILI nyaris melanjutkan sekolah kedokteran di sebuah universitas negeri di Yogyakarta, namun cita-cita masa kecilnya ini harus kandas karena ketiadaan biaya.

Semesta merancang jalan tak biasa untuk WILI. Gagal sekolah dokter, sebuah keajaiban tetap membawanya merantau ke Jawa. Ia diterima kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan beasiswa penuh, belajar gratis selama 4 tahun. Jogja adalah rumah keduanya, kota bersahaja yang menempa WILI dengan perjuangan dan pengalaman istimewa.

Pada medio 2009, WILI hijrah ke Jakarta dan berkarya sebagai jurnalis TRANS TV. Akhir Agustus 2011, WILI memutuskan keluar dari TRANS TV, setelah terpilih sebagai salah satu PENGAJAR MUDA dari Gerakan Indonesia Mengajar. Kembali dari Hutan Samak, tempatnya mengajar selama setahun, sebuah stasiun TV baru bernama NET. kemudian mengajaknya bergabung. Ia dipercaya menyalakan sebuah program inspiratif bernama Lentera Indonesia. Acara ini memberinya kesempatan keliling tanah air, masuk desa-desa terpencil, bertemu saudara-saudara sebangsa dari Papua hingga Sumatera, dari Rote hingga Sangihe.

Pada April 2014, WILI menginisiasi sebuah komunitas donasi buku, namanya Buku Bagi NTT. Misinya untuk membangun satu taman baca di setiap desa di kampung halamannya, Nusa Tenggara Timur. Setelah berkarya selama 3,5 tahun sebagai News Producer di NET, WILI akhirnya mengundurkan diri. Ia mengubah haluan karier menjadi aktivis sosial dan edukator serta meretas impian melanjutkan studi magister dan doktor di Amerika Serikat.

Pada Agustus 2016, WILI bergabung dengan Ashoka (sebuah organisasi internasional di bidang social entrepreneurship) untuk mengelola gerakan global yang fokus mempromosikan nilai empati dan mendorong anak-anak menjadi agen pembaharu atau changemakers. Setelah setahun membantu Ashoka, WILI memutuskan berhenti dan memilih berkarya mandiri. Ia tetap berkiprah pada kerja-kerja di bidang edukasi secara independen. Jalan hidupnya penuh liku, tapi WILI percaya, ia ditakdirkan untuk membuat perbedaan, disiapkan untuk hal-hal besar.

wiliharvard

WILI jatuh cinta, sedalam-dalamnya dengan Indonesia. Dia percaya, dia akan terus tumbuh menjadi penjaga Indonesia, mercusuar pembawa cinta kasih dari Nusantara untuk warga semesta, penerus cita-cita mulia Bapak Bangsa. Seperti kata Bung Hatta tahun 1928 dulu: “Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku.”

WILI mengimani Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Dia juga meyakini sepenuh jiwa dan raga bahwa keberadaannya di bumi ini untuk tujuan terakbar: ditakdirkan untuk membawa kebesaran dan kemuliaan Allah.

*******

Menulis adalah salah satu bakat terbesarnya! Ya, bakat, sebuah pemberian, itu saja. Bukan suatu kesialan, ia meyakininya saat beranjak dewasa. Tidak ada kata terlambat, waktu adalah ilusi, Einstein bilang begitu. Mungkin saja ia perlu menimba dahulu lebih banyak masa untuk belajar.

Sejak kecil, sejak dia tahu baca tulis, dia sudah menggandrungi kedua aktivitas itu. Membaca dan menulis. Membaca semua informasi yang ia sukai, menceritakan semua saja yang membekas dalam ingatannya, pun semua hal yang menyentuh emosinya dalam sebuah buku tulis. Dari situ dia memulai, sering kali dia tampil di depan khalayak untuk membacakan puisi, menang dan akhirnya dapat piala.

Waktu berputar dengan penuh perasaan, begitu menurut hematnya. Sehingga apa saja yang ada dalam pikirannya, kemarahan, kesedihan, kesenangan, ketakjuban, dia ceritakan dalam tulisan, sebagian besar dalam rupa puisi, dalam rantai kata dengan makna tersembunyi, yang hanya dia tahu sendiri dan membiarkan orang lain mencari artinya dalam pikir pribadi. Ada gairah spiritual di sana, bakat yang mesti terus dilatih, sebab jika tidak begitu dia tidak menemukan nilainya. Isabel Allende, seorang penulis terkemuka pernah berucap “apa yang tidak kugoreskan di atas kertas akan terhapus oleh waktu..”

Demikian cuma! Semoga blog ini menjadi awal yang baik bahwa karyanya sekalipun tidak penuh arti, tetap dapat dibaca. Dia masih pemula, masih perlu berbanding banyak dari mereka yang telah berkenan dikenang sebagai penyair, sebagai sastrawan besar. Hanya satu harapan, semoga karya-karya dari PIALA-nya dapat membawa sedikit nilai bagi yang membaca. Tetapi jika tidak begitu, terima kasih setidaknya dia telah mencoba memberi warna dalam karya-karya sastra yang tersimpan sendiri tanpa publikasi.

11011957_10152945091798775_1691671821363146566_n

Dia senantiasa ingin menjadi sebuah

PIALA

sebuah Cawan untuk diisi bulir-bulir semangat, pengalaman, doa, pengetahuan, kebijaksanaan dan serpihan kritik..

sebuah Trophy sebagai PENANDA KEMENANGAN..!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s