AWANAMA

to the anonymous One.


in times past,

i started learning to record,

that people called you ”Father”,

with calm mien, praised beautiful words,

even when the heartbeat suddenly hurdle,

felt your presence in the sense of frantic, fear, crumpled and death.


i simply obeyed.

i didn’t really know why i should believe.

the inner call had made me endure longer,

perhaps up to this face, would just the wind blowing the rocks,

and till the body encounters dust,

loss of sound, silent in the dots of history.


whereas you’re so far away…(i’m not sure).

you’re vanished while long sleep blacken our instincts…(i’m not sure).

lost in anger the time that i found my dreams were swept away by the sun.

oh, are you really a mystery…?

or am i just a piece of meat who can only whisper,

moan over to you in prayers?


(i was not really sure what i have repeatedly done)


Father, forgive me.

out of the depths, i cry out to you.

have mercy on me as i failed to love you.

everything came not as i expected, stopped me on this apriori.

have sinned i, yet you never give up on me.

oh, thank you,

thank you for all the blessing that i cannot see.


sun-blessing

[2017]

10 harapan sempurna

beberapa tahun lalu ketika mengajar di dusun yang 99,9% penduduknya merupakan pemeluk Buddha, saya rutin mendengarkan doa ini, didaraskan tiap hari di sekolah oleh para murid.

pagi dan siang, di awal dan akhir kegiatan belajar, murid-murid saya akan membentuk sikap anjali, mengatupkan dua telapak tangan, menempelkannya di dada, menutup mata, lalu berucap dengan lantang:

“semoga aku senantiasa mencari siapa yang bisa kubantu, semoga aku memberi untuk mengikis keakuan.”

meski iman kami berbeda, saya selalu mengenang doa ini dengan rasa kagum, sampai sekarang. doa yang sangat dalam, universal dan indah, yang saya terima sebagai ‘hadiah’ istimewa dari murid-murid saya dulu. ini menjadi semacam pengingat ketika saya lupa berbuat baik, penguat saat perbuatan-perbuatan yang saya anggap baik tak mendapat balasan setara, atau serupa pesan sederhana agar tetap woles, memandang dari dua sisi, dan ‘jangan lupa bahagia.’

begini selengkapnya isi doa itu.. namanya 10 paramita atau 10 harapan sempurna atau 10 cita-cita mulia.

1. Dana (Memberi)
Semoga aku senantiasa mencari siapa yang bisa kubantu.
Semoga aku memberi untuk mengikis keakuan.

2. Sila (Moralitas)
Semoga aku santun dan tidak merugikan pihak lain.
Semoga aku terkendali dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

3. Nekkhama (Pelepasan keduniawian)
Semoga aku mengutamakan kepentingan pihak lain.
Semoga aku tak lekat pada yang buruk maupun pada yang baik.

4. Panna (Kebijaksanaan)
Semoga aku penuh kesadaran dan pemahaman jernih.
Semoga aku piawai dalam membantu pihak lain.

5. Viriya (Semangat)
Semoga aku giat berjuang untuk mencapai tujuan muliaku.
Semoga aku tak gentar menghadapi segala rintangan.

6. Khanti (Kesabaran)
Semoga aku mampu menanggung kekeliruan pihak lain.
Semoga aku melihat sisi baik dari segala sesuatu.

7. Sacca (Kebenaran)
Semoga aku tidak menyembunyikan kebenaran.
Semoga aku tulus dan dapat dipercaya

8. Adhitthana (Tekad kuat)
Semoga aku terus berpegang teguh pada kebenaran.
Semoga aku lembut bagai bunga dan kokoh bagai karang.

9. Metta (Cinta kasih)
Semoga aku mengasihi tanpa pilih kasih.
Semoga aku bahagia dan membawa kebahagiaan bagi pihak lain.

10. Upekkha (Keseimbangan batin)
Semoga aku memperlakukan semua makhluk dengan setara.
Semoga aku teduh dan seimbang dalam segala keadaan.

1_merisa-di-depan-rumahnya
rumah murid saya di dusun hutan samak, pulau rupat, riau

itu saja. kiranya bermanfaat kawan.
“semoga kita bisa mengasihi tanpa pilih kasih. semoga kita mampu melihat sisi baik dari segala sesuatu. semoga semua makhluk berbahagia.”

[2017]