Tentang Saya & ‘Buku Bagi NTT’

LogoBBNTT

Sedari kecil, saya sudah jatuh cinta pada buku. Pada awal tahun 90-an saat mulai masuk SD, orang tua saya tidak punya bahan bacaan yang banyak dan cocok untuk anak seusia saya. Maka semenjak saya sudah mampu membaca, saya melahap bahan bacaan apa saja yang ada di rumah. Paling banyak adalah buku-buku milik Bapak. Bapak saya adalah pelanggan setia buku-buku Orde Baru, salah satunya adalah buletin BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), materinya sangat serius, bermuatan ilmu politik dan ketatanegaraan, penuh dengan terminologi-terminologi yang kompleks, yang saya sendiri tidak tahu artinya. Namun kebiasaan masa kecil ini rupanya membentuk saya menjadi pribadi yang “old soul”, saya berpikir jauh lebih dewasa dari teman-teman sebaya, dan pengetahuan saya pada kata-kata serapan sangat kaya sejak belia. Membaca buku-buku yang berat sejak kecil membuat saya mampu memahami pembicaraan orang dewasa, saya mengerti makna dari terminologi-terminologi yang mungkin seharusnya baru saya pahami saat saya SMA, juga mengasah kemampuan saya dalam public speaking, membuat pikiran saya tumbuh dengan imajinasi atau gagasan yang melampaui usia. Dampaknya tidak selalu baik, kadang kala saya merasa kesepian ketika tidak banyak kawan memahami gagasan yang saya utarakan, atau kadang saya dianggap tidak nyambung dalam pembicaraan. Ever since I can remember, I always felt that I was a bit different. I had big ideas as a child that no one around me could really fathom.


Meski begitu, saya selalu bersyukur untuk pengalaman masa kecil ini. Sebab kesukaan baca buku memperkaya pemikiran saya, memampukan saya bertahan dalam persaingan kehidupan karena intelegensi saya yang baik. Saya tidak bermaksud arogan, ini hanya sebuah refleksi sejarah hidup yang membentuk saya menjadi pribadi saya yang sekarang. Selain suka baca, saya memang tumbuh dalam keluarga pendidik. Kakek saya, orang tua saya, paman dan bibi, saudara-saudara saya, para sepupu, profesi mayoritas dari keluarga besar saya adalah GURU. Karena itu saya meyakini, saya dilahirkan sebagai edukator. By ancestry, I was born to teach, to educate, to preside, to lead. Meski telah menjalani ragam profesi, Tuhan tidak pernah menjauhkan saya dari kerja-kerja terkait pendidikan, kerja-kerja yang memuliakan pikiran.

IMG_4140.JPG


Orang bijak bilang, gagasan-gagasan mulia lahir dari krisis. Saya setuju. Tidak ada karya besar yang muncul karena kemudahan. Begitu pula yang terjadi dalam hidup saya. Salah satu titik balik terpenting saya alami ketika tamat SMA. Tahun 2004 saat usia saya 17 tahun, saya lulus seleksi masuk Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, impian masa kecil yang berhasil saya wujudkan. Tetapi takdir berkata lain, saya gagal meneruskan kuliah kedokteran karena ketiadaan biaya, uang masuknya saja begitu besar, 100 juta rupiah, angka yang saya sadari tidak mampu dijangkau oleh orang tua saya. Apalagi buat seorang anak guru biasa, yang sejak umur 7 tahun diasuh seorang Ibu sebagai orang tua tunggal. Saya sungguh terpukul waktu itu. Namun Tuhan menyediakan rencana lain. Dia mengganti kekecewaan saya dengan hadiah yang jauh lebih indah, saya bisa meneruskan kuliah secara gratis di kampus swasta (Universitas Atma Jaya Yogyakarta) dengan beasiswa penuh selama 4 tahun.

Pengalaman ini meneguhkan panggilan hidup yang saya tekuni bertahun-tahun, termasuk diantaranya adalah waktu satu tahun yang saya relakan untuk menjadi guru di pelosok melalui Gerakan Indonesia Mengajar. Kegagalan meraih cita-cita masa kecil karena keterbatasan finansial serta kesempatan lanjut sekolah karena beasiswa memantapkan langkah saya dalam karya-karya sosial, terutama karena saya ingin membaktikan diri untuk membantu anak-anak lain dari keluarga tidak mampu, mereka yang berprestasi namun mengalami hambatan untuk melanjutkan pendidikan karena kemiskinan.

Tetapi saya tahu saya tidak punya banyak uang dan saya tidak bisa bekerja sendiri. Tuhan membantu saya mewujudkan panggilan itu melalui buku. Sebuah perjalanan hidup yang tidak terjadi karena kebetulan semata, sebab Tuhan sudah menyiapkan saya untuk ikhtiar ini sekian lama sejak saya masih daun hijau muda.

bukubagintt

Saya percaya membangun perpustakaan adalah usaha untuk menciptakan kehidupan. Kredo ini saya lakukan dengan cara sederhana, yaitu “kembali” ke tanah kelahiran saya, Nusa Tenggara Timur, melalui gerakan bagi-bagi buku dan membangun kecintaan pada aktivitas baca buku. Gerakan ini tumbuh besar, menyatukan ratusan relawan dalam sebuah komunitas bernama “Buku Bagi Nusa Tenggara Timur (NTT).”

Sejarah “Buku Bagi NTT” sejatinya bermula ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Biak, Papua, pada awal 2014. Saat itu saya bekerja sebagai jurnalis televisi dan bertugas mendokumentasikan karya komunitas “Buku Untuk Papua” yang tayang dalam serial dokumenter “Lentera Indonesia” di NET. Saya bertemu pendiri komunitas ini, seorang keturunan Jawa yang lahir besar di Nabire, namanya Dayu Rifanto. Pertemuan dengan Dayu seolah charger hape yang mengisi saya dengan energi penuh, memantik api semangat saya untuk merintis aksi serupa untuk tanah kelahiran saya, Nusa Tenggara Timur. Saya ingat satu pesan sederhana dari Dayu, ia bilang menginisiasi gerakan atau komunitas sosial tidaklah rumit, mulai saja, ajak banyak kawan, lakukan dengan simple, konsisten, dan mudah diduplikasi. Kita tidak bisa bekerja sendiri untuk membuat perubahan besar. Kita kuat karena bersama-sama.

Berlandas 3 prinsip itulah (simple – konsisten – mudah diduplikasi), tepatnya pada 3 April 2014 saya merilis inisiatif “Buku Bagi NTT” melalui platform media sosial, saya mengajak banyak orang, beberapa kawan baik kemudian tergerak untuk bekerja sama mewujudkan sebuah komunitas donasi buku dan membangun perpustakaan masyarakat dengan semangat solidaritas (kasih persaudaraan), kolaboratif (kompak), tulus berbagi (service) serta wajib tiru-meniru supaya semakin banyak yang merasakan manfaatnya.

Dalam perjalanannya, banyak kawan hebat bergabung di komunitas ini, sehingga seiring waktu saya menjadi tak berani mengklaim bahwa Buku Bagi NTT ada dari pemikiran saya semata, tidak sama sekali. Saya hanya menabur, Tuhan-lah yang memberi pertumbuhan. Buku Bagi NTT tumbuh karena kerja bersama, karya pelayanan banyak orang, dibangun dengan pengorbanan-pengorbanan kolektif.

rumahbacabunda
Sumber: Koleksi Instagram @bukubagi_ntt

Hampir 4 tahun komunitas Buku Bagi NTT berkiprah, jaringan kami telah tersebar di seluruh penjuru NTT, simpul relawan hadir di 18 kabupaten di NTT, serta 9 regio terhimpun di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, termasuk Pulau Sebatik di Kalimantan Utara yang bertetangga dengan Malaysia hingga Hong Kong. Lebih dari 100 taman baca baru hadir hingga pelosok-pelosok desa. Kami bahkan sedang merancang kurikulum mandiri untuk taman baca. Hasil ini belum seberapa, karena kami punya cita-cita lebih besar dari sekadar baris angka-angka atau masuk berita, kami punya visi menumbuhkan sedikitnya 1 rumah baca di tiap kampung, mewujudkan generasi NTT yang cerdas, membuktikan bahwa anak muda NTT berdaya, mampu melahirkan solusi atas masalah-masalah kami. Kami harus jadi pemeran utama di tanah sendiri, mercusuar untuk Indonesia dan dunia.

Sampai sekarang saat saya menulis kisah ini, saya masih belum sepenuhnya percaya bagaimana Tuhan berkarya luar biasa dalam komunitas ini. Berawal dari sebuah kamar kost kecil di Kuningan, Jakarta Selatan, dan hanya dengan modal kata-kata yang saya sebarkan di media sosial, Buku Bagi NTT telah tumbuh menjadi komunitas yang sangat besar, melahirkan banyak komunitas/ gerakan baru dengan visi yang sama, dan terus bertahan dalam kerja-kerja kerelawanan. Saya menulis ini dengan hati yang penuh tangis syukur, betapa luar biasa penyelenggaraan Tuhan. Terima kasih TUHAN, sutradara di balik layar. Sebab jika bukan karena DIA, sia-sia semua niat baik kita.


 

Selamat menyongsong tahun 2018.

Salam & doa untuk semua relawan BBNTT dimana saja berada.

 

Wilibrodus Marianus.

Advertisements

Servire In Silenzio

“they are not of the world, even as I am..” – John 17:16

Almost throughout my entire grown-up life, I have encountered quite a lot of good people who enthusiastically wondering why I chose to become a social worker. Most recently wondered why I was willing to leave my previous job as a TV producer (which they regarded as a great job), then work voluntarily, to devote myself to others.

This morning, the same scene was repeated. Returning from a 3-days visit to the schools where I managed the ‘young changemaker’ training, someone asked me why I want to go through this difficult path. A road less-traveled by, he said, because voluntary works won’t make the volunteers rich..:) A vague opinion. What does “poor” or “rich” even mean?

B8hvMLhCIAA4hNO.jpg

Honestly, I do not know the exact answer. One thing I know, I simply could not resist my conscience: a divine voice within me. If this needs to have a more precise answer, I learned to discern from my history of  life, and set it to become my personal value, which is then I can easily explain to them who asked. Hopefully they become inspired too as well. But at least I have been keeping my perpetual values that I believe had already embedded deep within me, even long before I exist in this mortal world.

Social work introduced itself to me at a very tender age. Being born in the impoverished family, survived the near-death experience when I was just one month old, accepted that my parents got divorced when I was 7 years old, and eventually lived with my mother who also became a single parent for me and my siblings; those experiences taught me a great deal of the scars many of us carry. From the time I was seven and I lost my father, I felt different. I always felt that my being on this earth was for a reason and that I was destined to do something noble, notably to help unfortunate people like me. I have been in their shoes and it all starts with me.

I want to be a social worker because it feels right. My passion comes from knowing that changing the world starts from helping the helpless and being able to empathize with them. This is what makes me earnestly struggling to pursue higher education, trying to reach my Master’s Degree in Social Work in the US. This is also what has moved me to join the Indonesia Teaching Movement, founded Books For NTT, took part in so many charitable works, and recently joined with Ashoka to collaborate with leading social entrepreneurs to cultivate more changemakers from early stage.  This is not for the praise, not for applause. I just want to share, to give more, to serve in silence. This end, to my tomorrow and those I will go on to serve, this is my story of life, my calling and my unswerving path.

e-signature

[2017]