Dalam Iman

Tadi malam setelah mengikuti doa adorasi di gereja, saya kembali ke rumah dengan perasaan haru yang tak biasa.

Di jalan menuju ke rumah, saya terkenang sebuah lagu dari masa kecil yang tak pernah lagi saya dengar dinyanyikan dalam ibadat atau Misa. Lagu itu saya lantunkan sepanjang jalan, bernyanyi dengan suara tipis dan penuh derai air mata mengenang betapa tak terselami cinta Tuhan pada saya.

Pada hari Jumat Agung ini saya berniat membagikannya kepada banyak orang melalui blog. Saya tidak dapat menuliskan melodinya, hanya liriknya saja. Semoga lagu yang sederhana ini, memberkati saudara semua dalam pengalaman perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi, serta dimampukan untuk merasakan kerahiman Allah yang begitu besar dalam hidup kita.

Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal. (Yohanes 3:16)



DALAM IMAN

Dalam iman kuinginkan jumpa dengan-Mu

Banyak kisah yang kukenang tentang Dikau sanjunganku

Dalam korban dan perjamuan kudus Kau buktikan cinta-Mu kepadaku

Alangkah mesra bersama-Mu walau tak terjangkau inderaku

Mahligai batinku bersinar oleh rupa-Mu

Dikau YESUS-ku kebanggaanku, kurias selalu dalam hidupku.

Advertisements

SELINGKUH IMAN DENGAN MODAL

Ia diludah seribu maki dibantai mata-mata palsu
karena jalan rahim memilih nama tak sama
dari akta berpena cacat sampai jejak menggores petak nisan
Difitnah inferior bermulut besar,
diburu sebab perbedaan tak mungkin terkikis
hingga raga berselubung tanah
Ribuan kebencian seperti belati runcing tajam
menunggu detik sang terancam hilang kesadaran
dan jalan semata kaki miring satu senti
Kemudian mata tombak tinggal merajam dagingnya mentah-mentah
Di negerinya di pulau orang-orang tak berbelaskasihan,
di air dan tanah tukang catut sana catut sini,
jaman menjual harga terlalu murah
bagi satu nyawa mengaku berTuhan.

Ia tinggal terpaut takjub, sedikit letih memenjara iman sehidup semati
Adakah sedahsyat itu kasih seorang putra dari rupa dewa
dari nubuat titisan roh
ke bumi menumpang rahim dara
memilih pasrah mengandung tidak karena nafsu ?
Akh… sangsinya mungkin berbuah dosa
Setan kefanaan bisiki alasan serapah, melepuh-lekang sumpah percaya
Tentang Raja yang memberi diri mati sahaya
Dan tiga nama satu pribadi sudah menakdirnya
sebelum cahaya memilah terang dari kelam

Di simpang jendela berjeruji ia masih bertengkar dengan kecamuk hati
Rosari merah terdekap erat di belah dada
tantangi suara batin seragu hari kelabu
menggantung di payung bumi tanpa hujan
Gerimis lagi… adakah Ia melukis tanda ???
Dua belas ekor pipit berjajar rapi di pojok dekat kaca pengintai
Mata coklat mungil selidik mencari celah mau mencabik kulit tuanya
Sisanya berputar seirama badai menunggu usai
dan mereka bisa kembali terbang

Lilin kecil sudah habis meleleh,
tinggal kilau fosfor salib hijau muda di balik pintu
menemaninya menunggu pagi
Setan seringai makin lihai pamer siasat dengan iming materi
Tak ada kekekalan bagi kaul rapuh
Langit kelam terawang tiba-tiba pipit menjerit panjang
Bertahun hari bertahun malam ia sudah ingkar janji
Mendengkur pulas mengukir pulau air liur di kulit kasur
lewati subuh tanpa pesta kudus
Adakah ia tetap setia,
menukar darah kemanusiaan supaya menggenapi asal dosa
Biarlah pagi suci berputar pergi menjual iman berselingkuh dengan modal
Hidupnya segala lalu seluruh nanti segenap kini terpatri dalam nama Isa

JOGJA, Februari 2007